Ahad, 19 Januari 2014

Senjata/Teknologi Syaitan

Kita manusia menggunakan pelbagai peralatan dengan pelbagai tujuan di dalam kehidupan ini. Bagaimana pula Jin?. Adakah mereka juga mencipta peralatan dan menggunakannya?. Atau soalan yang lebih berat lagi, adakah mereka membangunkan teknologi?.

Abu Ad-Darda ra. pernah pula menceritakan: “Rasulullah saw berdiri untuk mengerjakan shalat. Kami mendengar beliau berkata: “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Kemudian berkata tiga kali: “Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Beliau membentangkan tangannya seakan-akan menangkap sesuatu. Ketika beliau selesai shalat, kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tadi mendengarmu mengucapkan sesuatu di dalam shalat yang sebelumnya kami belum pernah mendengar engkau mengucapkannya dan kami melihatmu membentangkan tanganmu.” Beliau menjawab keheranan para sahabatnya dengan menyatakan:
“Sesungguhnya musuh Allah, Iblis, datang dengan bola api yang hendak dia letakkan pada wajahku. Aku katakan: “Aku berlindung kepada Allah darimu”, tiga kali. Kemudian aku berkata: “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna yang pantas untuk engkau dapatkan”, tiga kali. Lalu aku ingin menangkapnya. Demi Allah, seandainya bukan karena doa saudara kami Sulaiman niscaya ia menjumpai pagi hari dalam keadaan terikat hingga dapat dipermainkan oleh anak-anak Madinah.” (HR. Muslim no. 1211)

Hadith di atas diantaranya memberikan pengetahuan kepada kita tentang serangan Iblis dan senjata yang digunakannya. Hadith mengenai perjalanan isra dan mikraj juga ada menceritakan kisah syaitan berbangsa ifrit mengejar baginda saw sambil membawa obor-obor/jamung berapi.
Sedikit pengalaman yang saya lalui sebagai ‘mualij’ kecil-kecilan, senjata yang digunakan syaitan itu adalah pelbagai. Manusia yang boleh memasuki spektrum 3.3(rujuk tulisan saya mengenai perbahasan kemampuan manusia melihat jin) dapat melihatnya dengan izin Allah swt. Doakan saya diizinkan Allah swt dan dengan keredaanNYA menulis pengalaman ini di masa terdekat. Namun pada tulisan ini saya kongsikan sebahagian mukadimahnya.


Ayat-ayat Al-Quran yang saya kongsikan di bawah, jelas menceritakan kepada kita tentang teknologi di alam Jin khususnya golongan syaitan.
"Dan Kami kurniakan kepada Nabi Sulaiman kuasa menggunakan angin untuk perjalanannya: sepagi perjalanannya adalah menyamai perjalanan biasa sebulan, dan sepetang perjalanannya adalah menyamai perjalanan biasa sebulan; dan Kami alirkan baginya matair dari tembaga; dan (Kami mudahkan) sebahagian dari jin untuk bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan sesiapa dari jin itu yang menyeleweng dari perintah Kami, Kami akan merasakannya (pukulan) dari azab api neraka.  Golongan jin itu membuat untuk Nabi Sulaiman apa yang ia kehendaki dari bangunan-bangunan yang tinggi, dan patung-patung, dan piring-piring hidangan yang besar seperti kolam, serta periuk-periuk besar yang tetap di atas tukunya. (Setelah itu Kami perintahkan): “Beramal lah kamu wahai keluarga Daud untuk bersyukur!” Dan sememangnya sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur."  [Surah Saba' : Ayat 12 - 13]

"Dan (Kami mudahkan baginya memerintah) Syaitan; (dia memerintah) golongan-golongan yang pandai mendirikan bangunan, dan yang menjadi penyelam (bagi menjalankan kerja masing-masing)." [Surah Shaad : Ayat 37]


Kisah dan pengajaran(Serangan Senjata Syaitan)

Awal 2013,Skudai.
Tika aku sedang bertilawah di Masjid Taman U sementara menunggu isya’ ,Samsung Note2 bergetar.Panggilan dari sahabatku Dr A. “Insha Allah, lepas solat ana ziarah anta”. Jawabku ringkas.

Dr A, bagiku seorang yang sihat dan segak. Sesampai di rumahnya, beliau duduk di sofa, tidak dapat berdiri menyambutku.Tersandar di sisinya sebatang tongkat yang diselitkan di ketiak jika ingin berjalan.
“Tadi semasa saya keluar dari masjid selepas solat asar tiba-tiba bahagian bawah lutut saya terasa amat sakit.” Jelas Dr.A. Beliau terus membeli tongkat  dan ke klinik university. Tiada apa yang abnormal yang dapat dikesan oleh klinik berkenaan.Sepanjang hidupnya beliau tidak pernah mengalami sakit seperti itu.  Saya menghabiskan ruqyah sekitar setengah jam. Isteri Dr.A yang duduk di sisi beliau mendengar sama. Selepas kami berdoa, isteri beliau diizinkan Allah swt memasuki spectrum 3.3. Beliau melihat beberapa senjata tajam dan panjang(senjata alam jin) tercucuk di bahagian yang sakit pada kaki Dr.A. Saya hanya menganguk-angukkan kepala bersetuju dengan apa yang beliau lihat.

Saya membaca ruqyah Ibn Mas’ud(rujuk tulisan saya yang berkenaan) sambil mencabut senjata-senjata berkenaan dituruti dengan al-fatihah sambil menyapu tangan saya dibahagian yang sakit. Luka-luka(bukan luka fizikal) yang tertinggal mula bercantum.

Serta merta sakit di kaki Dr.A mula berkurangan. Saya meninggalkan rumah Dr.A sekitar jam 12.30malam. Alhamdulillah subuh pagi itu Dr.A solat di sebelah saya. Beliau pulih sepenuhnya,tongkat tersebut telah beliau sedekahkan kepada yang memerlukannya.  Allahuakbar hebatnya mukjizat Al-Quran dan benarlah Rasulullah saw.

Jumaat, 10 Januari 2014

Kisah Dan Ibrah(Sihir Saka)

Dikongsikan kisah benar dari Negara jiran. Seperti yang ditulis oleh sebuah pusat rawatan ruqyah Syar’iyah. Diantara pengajar yang boleh di ambil :
a)      Sedikit sebanyak memahami bagaimana sihir saka boleh terjadi. Diantara makna sihir itu adalah mendekatkan diri kepada syaitan.
b)      Sihir sememangnya tidak memberi manafaat bahkan memudaratkan manusia dunia dan akhirat.
c)       Amalan yang tidak mengikut sunnah nabi saw hanyalah mengundang bencana dunia dan akhirat.
d)      Al-Quran menjadi syifa kepada permasalah sihir saka.

Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul

"MONA (bukan nama sebenarnya), kamu berbakat jadi dukun hebat," kata kakek suatu sore. Kata bernada pujian itu terlontar dari bibir kakek setelah sekian bulan. la memantau perkembangan murid-muridnya. Murid yang istimewa, karena semuanya memiliki pertalian darah. Generasi saya adalah generasi kelima dari keluarga yang secara turun ternurun terkenal sebagai dukun kesohor di Jawa Tengah. Pendadaran yang langsung dibawah kendali kakek memang dimaksudkan untuk mencari penerus dari ilmu leluhur kami. Para dukun yang telahsekian puluh tahun malang melintang di dunia perdukunan. Dari kawah candradimuka ini akan terlihat siapa yang layak menjadi pewaris ilmu leluhur keluarga kami. 
Mulanya, saya tidak tertarik menjadi seorang dukun. Saya hanya mengikuti sebuah tradisi dalam keluarga yang harus menjalani latihan tahap pertama ini. Dan saya dinyatakan sebagai yang terbaik. Melebihi bakat yang dimiliki sepupu saya yang nampak ngotot ingin menjadi dukun.
Ukuran keberhasilannya sebenarnya mudah, hanya dengan melihat pengaruh dari tahapan puasa yang kami jalani. Seberapa lama seseorang dapat merasakan kehadiran jin tanpa ada rasa takut. Semakin cepat, katanya, bakat yang dimilikinya semakin besar.Umur saya masih belasantahun ketika pertama kati disuruh berpuasa tiga hari. Rabu Pon, Kamis Wage dan Jum'at Kliwon, itulah hari-hari yang biasanya dipilih. Namun, puasa yang saya jalani berbeda dengan puasa dalam ajaran Islam. Waktu itu, saya disuruh mengawali puasa pada hari Selasa siang. Tepatnya jam tiga sore. Bukan Shubuh seperti lazimnya puasa dalam Islam. Satu jam sebelumnya sayaharus mengikuti ritual mandi kembang.
Saya berpuasa tanpa makan dan minum. Adzan Maghrib berlalu tanpa seteguk air membasahi kerongkongan. Saya hanya diperbolehkan makan nasi satu kepalan tangan dan air putih bila sudah sangat lapar. Itu pun hanya dibolehkan makan sekali. Bila tidak mampu, otomatis sayadinyatakan telah gagal dalam pendadaran ini.

Jam dua belas malam, saya disuruh keluar rumah lalu menjejakkan kaki ke bumi tiga kali, sambil merapal mantra berbahasa Iblis yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna,"Atas kekuatan udara, langit, bumi dan laut. Aku mengundang semua kekuatan itu atas penciptaan Tuhan. Atas nama besar Muhammad dengan dukungan Iblis ajmaun."
Saya yang belum mengerti apa-apa, hanya menuruti kata-kata kakek. Selanjutnya, saya disuruh mandi dari tujuh mata air yang berbeda. Mata air yang harus jatuh dari gunung. Sebuah persyaratan yang sulit terwujud bila tidak dipersiapkan jauh-jauh hari. Namun, semua persyaratan itu telah dipersiapkan kakek. Saya tinggal menjalani ritual semata.
Hari ketiga, saya disuruh kakek masuk ke dalam kamar. Duduk bersila dan mematikan lampu. Hanya lilin yang dinyalakan. Dalam temaram lampu lilin, saya diperintahkan menanggalkan semua busana. Selanjutnya tinggal menunggu apa yang akan terjadi.
Kata kakek, nanti ada yang datang dan biasanya menepuk punggung sebelah kanan. Awalnya saya merinding memikirkan apa yang akan terjadi. Namun saya berusaha menepisnya dan menenangkan diri. Tepat jam dua belas malam lebih sepuluh menit saya merasakan tepukan dipundak sebelah kanan.
Saya langsung kedinginan. Dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk tidak berteriak. Saya diam. Menunggu apa yang akan terjadi. Ternyata hembusan angin mematikan lilin. Padahal saya berada dalam kamar yang tertutup yang seharusnya tidak mengizinkan angin masuk. Padamnya lilin merupakan pertanda buruk bagi saya.
Kakek menyatakan tirakat saya gagal dan harus diulangi lagi. Saya kembali menjalani ritual sejak awal di bulan berikutnya. Kali ini, kakek berpesan agar saya tidak membaca basmalah. Karena jinakan pergi lagi bila saya membaca basmalah. Puasa yang kedua ini, kakek benar-benar mengawasi saya, hingga ia pun puas. Saya dinyatakan lulus. Berikutnya saya disuruh melanjutkan puasa tujuh hari. Namun, terlebih dahulu saya harus mencari hari yang tepat. RabuPon, Kamis Wage dan Jum'at Kliwon, seperti biasa menjadi pilihan.  Dalam tahapan ini saya dinyatakan lulus, hingga langsung naik ke tangga berikutnya. Saya puasa dua belas hari, dua puluh satu hari dan empat puluh hari.
Setelah puasa empat puluh hari, saya disuruh kakek mandi di laut dengan membawa sisir,potongan rambut, potongan kuku dan celana dalam. Semua benda itu kemudian dibungkusdengan besek (sejenis tumbu terbuat dari anyaman bambu) dan ditinggal di laut. Setelah mandi saya langsung pulang. Karena kelelahan, sesampai di rumah saya tertidur. Saat itulah saya mendengar seseorang membangunkan saya. "Nduk, bangun," katanya. Saya terjaga. Saya tidak tahu apakah saya bermimpi atau tidak. Di depan saya telah berdiri seorang wanita berkebaya."Lungguh neng kene, Nduk (duduk di sini, nak)!" katanya. Saya turuti perintahnya. Tak lamakemudian, datanglah seorang kakek-kakek. Badannya kurus dengan balutan kain putih dikepalanya. la membawa sebilah keris. "Ini milikmu. Tolong dijaga!" katanya sambilmenyodorkan sebilah keris kepada saya. Belum sempat saya menjawab, keris itu langsung masuk ke dada saya. Saya benar-benar merasakan rasa sakit ketika keris itu menembus dada.
Keesokan harinya, saya sakit demam. Badan dingin menggigil. Setelah diserang panas dingin dua minggu lamanya, kakek datang. "Bagaimana, sudah masuk apa belum?" tanyanya. Belum sayajawab, kakek sudah mengejar dengan pertanyaan kedua. "Sudah didatangi apa belum?" katanya.
Saya heran, siapa orang yang dimaksudkan kakek. Pertanyaan kakek itu masih belum dapat saya jawab. Hanya diam jawaban saya. Saya tidak menghubungkan pertanyaan kakek denganperistiwa dua minggu yang lalu. Pembicaraan pun beralih ke sakit saya. "Tidak apa-apa, nanti juga sembuh" kata kakek, setelah memegang kening saya. la kemudian mengunyah jahe lalumenaruhnya di ubun-ubun saya. Aneh, perlahan rasa sakit itu hilang, hanya dengan kompres jahe yang dikunyah kakek.
Sejak itu, saya merasakan lidah saya menjadi tajam. Umpatan dan ancaman seringkali menjadi nyata. Orang pertama yang menjadi korban masih teman sekelas. Namanya Veti. la selalumenghina saya di depan umum. "Ngapain ke sini, kamu kan bau. Bau amis," kata Veti sinis.
Saya tidak terima dipermalukan sedemikian rupa. Dengan reflek, saya menjejakkan kaki kiri ke tanah tiga kali dan merapal mantra, "Demi angin, ...... saya berpegang padamu atas keputusan Tuhan." Selanjutnya saya menyebut nama Veti seraya mengancam. "Celaka kamu, kalau kamu memang tidak mau minta maaf sama saya." ketika pulang dari sekolah, Veti tertabrak mobil. la mengalami luka parah. Kakinya patah.
Waktu itu, saya belum berpikir macam-macam bahwa kecelakaan itu karena ucapan saya. Tapi peristiwa demi peristiwa yang terjadi kemudian membawa saya pada kesimpulan bahwa sayatidak boleh berbicara sembarangan.

RAMALAN PERTAMA YANG MENGGUNCANG KELUARGA
Saat SMA itu, saya sudah mulai meramal. Yang pertama menjadi korban masih sepupu saya. Retno, begitu ia biasa dipanggil. Retno yang telah berpacaran 8 tahun tidak lama lagi menikah. Hari H sudah ditentukan. Undangan juga sudah tersebar. Hari bersejarah dalam hidupnya, tinggal menghitung hari.
Sehari sebelum hari H, saya bermain ke rumah Retno. Dari raut wajahnya saya meramalkan bahwa pernikahannya akan gagal. "Ngapain kamu repot-repot seperti ini. Dia bukan jodohmu," kata saya tanpa merasa bersalah. Terang saja Retno blingsatan. la marah. "Kenapa kamu ngomong begitu, tidak sopan," katanya.
"Lihat saja. Siapa jodoh kamu. Jodoh kamu itu orangnya dari timur. Kulitnya putih dan rambutnya keriting, ketemunya kamu nanti di kereta," jawab saya dengan ringan. Retno terpana. la masih tidak percaya dengan ramalan saya. la bertanya dengan sedikit ragu, "Mengapa kamu bisa tahu kalau saya tidak berjodoh sama dia?"
"Karena di muka kamu terlihat bukan dia suami kamu. Aura kamu tidak nyambung. Kalau kamu tetap nekat sama dia, kamu akan susah. Kamu akan sengsara," kata saya panjang lebar.
Tak lama setelah kepergian saya, terdengar berita buruk. Retno gagal melangsungkanpernikahan esok harinya. Keluarga besar terpengaruh dengan ramalan saya dan memutuskan untuk membatalkan pernikahan. la syok. Keluarga pun tertimpa aib. Ujung-ujungnya saya disalahkan karena ramalan itu. Enam bulan lamanya ia baru dapat melupakan kenangan pahit itu. Ketika Retno berangkat ke Yogya, ia menceritakan mimpinya. la tidak lagi mempermasalahkan ramalan saya yang menggagalkan pernikahannya dulu. "Mon, saya mimpi dikelilingi api," katanya. "Berangkat sekarang. Besok kamu bertemu dengan jodohmu," jawab saya meyakinkan. Retno pun berangkat ke Yogya. Dan begitu pulang, dia langsungmemperkenalkan seorang pria yang kelak menjadi suaminya.
Selain itu saya mulai menerima  pasien. Pasien pertama saya adalah seorang penderita hilang ingatan asal Semarang, Jawa Tengah. Namanya Elsa. Saya pegang ubun-ubunnya, lalu saya tiup sebentar. la memang gila, gumam saya. Setelah saya putuskan untuk mengobatinya, saya berpuasa tiga hari. Kemudian saya membawanya ke laut. Di sana, saya duduk di pantai layaknyaorang yang bersemedi. 'Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, saya memanggil penguasa  laut kidul. Saya minta pertolongannya dan meminta petunjuk atas kebenaran yang tidak saya ketahui." Mantra pemanggil Nyi Roro Kidul pun saya rapal. Air laut yang ada di depan saya bereaksi. Air laut itu langsung mendekat. laseakan bernyawa. Keluarga Elsa ketakutan melihat apa yang terjadi. "Panggil saja lautnya dengan ikhlas," seru saya kepada orangtua Elsa. Mereka pun menuruti permintaan saya. Mereka memanggil air laut. Air laut kembali mendekat. la seakan menelan kami. Ia seperti menyambut kedatangan kami. Bila sudah demikian, saya tahu bahwa pasukan Nyi Roro Kidul sudah datang.
Sebelum memandikan Elsa, terlebih dahulu saya memotong kuku, rambut dan pakaian dalamnya. Saya minta orangtuanya menyebutkan nama kecilnya serta nama ibunya. Setelah itu potongan kuku, rambut dan pakaian dalam itu saya cuci sampai bersih lalu saya buang ke laut.Selang beberapa minggu kemudian, orangtua Elsa menghubungi saya dan mengatakan bahwa Elsa telah sembuh. Hanya saja setiap menjelang bulan Syura, dia harus ke laut.
Semakin hari, pasien saya semakin banyak. Jumlahnya mencapai ratusan atau bahkan ribuan. Karena kakek dan paman, juga sering melimpahkan pasiennya kepada saya. Mereka menganut aliran kejawen yang berkiblat ke Nyi Roro Kidul. Karena itu bila mendapat masalah yang pelik, mereka selalu datang ke laut dengan membawa sesembahan berupa bedak, sisir, kemben hijau, selendang hijau, kebaya, jarik parang, bunga mawar dan bunga melati. Sesajen itu biasanya dibawa pada hari Selasa kliwon atau Jum'at Kliwon.
Beragam alasan pasien yang datang kepada saya. Ada yang minta penglaris, dimenangkan dalam perjudian, maupun pelet. Seperti yang dialami seorang teman karib saya, Desi namanya. la diinjak-injak pacarnya sendiri. Sebagai sesama wanita saya tidak rela teman saya diperlakukan demikian. Desi pun minta tolong saya agar pacarnya tidak memutuskannya. "Mon, tolong saya!" pintanya memelas.
"Coba cari daun teratai tiga lembar. Cari yang arahnya saling bertemu dengan ruas yang sama," kata saya menjawab permintaan Desi. Desi benar-benar mencari daun teratai itu. "Kamu haruspuasa sehari semalam. Tanpa makan, minum dan tidur. Jam dua belas malam, ambil air wudhu dan duduklah menghadap kiblat dengan kaki bersila. Lalu tumpuk daun teratai itu menjadi satu. Sebut namanya disertai dengan membaca mantra lalu satukan daun-daun itu. Bayangkanpacarmu lalu usapkan ke kening. Setelah itu jadikan daun teratai itu sebagai bantalan tidur. Keesokan harinya pacarmu akan datang dengan muka yang aneh. Pandangannya kosong denganraut muka merah jambu." Saya jelaskan kepada Desi cara mendapatkan pacarnya melalui ilmu pelet. Desi akhirnya bersatu kembali dengan pacarnya. Hanya saja cintanya kini sudah melebihi batas. Dia tidak bisa berpisah dengan Desi. Kemana-mana selalu ingin bergandengan tangan.Cintanya sudah tidak wajar. Karena itu dua tahun kemudian Desi menemui saya lagi. la meminta agar peletnya dilepas. "Kasihan, ia bukan lagi yang saya kenal dulu," ujar Desi. "Bakar saja fotonya dan kemenyan bersamaan. Niatkan bahwa kamu ingin melupakannya." Itulah solusiyang saya berikan kepada Desi. Dengan itu, mereka tidak lagi mesra seperti yang dulu. Mereka pun akhirnya berpisah dan tidak melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

LARUNG SESAJEN Dl PANTAI SELATAN.

Tahun 2003, saya ikut kakek melakukan ritual ke laut selatan di malam hari. Bertepatan dengan hari Selasa Kliwon. Dari rumah kami berjalan kaki ke laut. Saya mengenakan kebaya sambil membawa tumpeng lengkap dengan nasi kuning. Sementara kakek membawaseperangkat sesajen berupa macam-macam pakaian, bedak, kapur sirih, tembakau, mas-masan dan kain hijau. Kami menuju laut. Sebelum masuk pintu gerbang, saya duduk dalam posisi menyembah dengan dipimpin kakek. Kemudian kami berjalan beberapa langkah, lalududuk menyembah kembali. Setelah melewati laut, saya mencium bau yang sangat harum. "Hmm.... Bau harum melati," gumam saya sambil menghirupnya dalam-dalam.
Semua barang bawaan dilarung ke laut. Selang beberapa menit kemudian, ombak datang menggulung sesajen. Kakek ceria. Wajahnya berbinar-binar. la merasa sesajennya diterima Nyi Roro Kidul. Lalu kami pun pulang dengan mengambil jalan berbeda. Tapi anehnya, bau harum itu ikut pulang bersama kami. Bau harum melati itu terus membuntuti sampai dalam rumah. Ketika saya tanya, kakek hanya men-jawab singkat. "Nyi Roro ikut."
Sejak itu, saya mulai sering bermimpi yang aneh-aneh. Saya diajak jalan-jalan ke lautselatan. Melewati pintu gerbang dan batu pualam yang tinggi. Dalam mimpi itu, saya disambut prajurit berpakaian ala kraton. la bersenjatakan tombak. Prajurit itumempersilakan saya masuk dan menyuruh saya tanda tangan. Tapi saya tidak mau, meski saya lihat banyak juga yang membubuhkan tanda tangan. "Saya hanya ingin lihat-lihat," elak saya.
"Ya sudah kamu masuk, memang kamu orang sini," jawabnya mempersilakan saya masuk. Saya melihat istana yang indah. Dengan lalu lalang orang yang tiada henti. Di sebuah ruangan terlihat emas permata yang melimpah. Puluhan orang datang mengambil permata-permata itu silih berganti. Di sudut lain, saya melihat laki-laki yang dikelilingi perempuan yang cantik-cantik. Orang itu lagi ngapain? tanya saya, tapi tidak adayang menjawab. Saya terus melangkah. Di sebuah tempat saya melihat orang-orang yang mengambil buah yang berisi permata. "Mereka lagi ngapain?" tanya saya kepada penjaga. "Mereka itu minta. Kamu nggak ikut minta?" tanya balik seorang penjaga. Saya menggelengkan kepala. Saya tidak tertarik untuk membawanya, justru saya ingin segera pulang.
Ketika pulang, saya merasa seperti terdampar di sebuah kilang minyak. Saya pun terbangun keheranan. Yang lebih mengejutkan, tempat tidur saya penuh dengan pasir. Mulanya, saya berpikir mungkin tadi belum saya bersihkan. Tapi keesokan malamnya, saya kembalibermimpi. Saya dijemput sebuah kereta kuda. "Ayo nduk pulang. Wong rumahmu di sana," ajak seorang perempuan berkebaya. Dalam mimpi itu saya kembali ikut ke laut pantai selatan. Tentu dengan pengalaman yang berbeda dan satu hasil. Kamar saya bertaburan pasir kembali.

KUNJUNGAN KE 'ISTANA NYI RORO KIDUL'
Akhir Desember 2003, saya membaca Majalah Ghoib edisi 9. Dalam sebuah rubriknya dikisahkan seorang anak yang bertingkah aneh karena bisa melihat jin. Saya merasakan kisah anak ituseperti perjalanan hidup saya. Bahkan lebih mengerikan. Dari sana, saya mulai berpikir bahwa ada yang salah dalam diri saya. Ada masalah yang harus segera diselesaikan.
Ketika saya bertemu dengan kakek, saya pertanya-kan apa yang selama ini men-jadi beban pikiran saya. "Kek, benarkah dalam diri saya ada jinnya?" tanya saya sambil menyodorkanMajalah Ghoib. Kakek terpana. la tidak menduga mendapat pertanyaan itu. "Tidak, kamu itu turunan," jawab kakek dengan suara bergetar. Kakek mem-baca sepintas Majalah Ghoib lalu merobek-robeknya. Kakek bercerita, saya adalah keturunan kelima yang diharapkan dapat mewarisi semua ilmu leluhur.
Ruang diskusi dalam hati saya belum tertutup, meski Majalah Ghoib telah dirobek-robek kakek. Saya kembali menelusuri perjalanan masa lalu. Perubahan sikap dan perilaku yang telah saya alami. Saya terkesima. Saya telah banyak berubah. Sejak tahun 2003, saya sudah tidak lagimenjalankan puasa Ramadhan. Jin yang merasuk ke dalam diri saya tidak mengizinkannya.Tenggorokan saya tercekik, bila saya niatkan puasa Ramadhan atau puasa sunah lainnya. Satu hal yang sangat berbeda bila saya puasa mutih atau ngrowot. Semuanya berjalan dengan lancar. Saya juga tidak lagi bisa shalat. jin-jin itu yang menghalangi saya.
Selain itu, ibu dan kerabat dekat saya mengatakan saya telah banyak berubah. Katanya saya jahat sekali. Saya menjadi licik dan omongan saya kotor. Saya bersedih. Linangan air matapun tidak lagi tertahankan. Saya menangis dalam kesendirian. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti ruqyah. Awal 2004, saya berniat mengikuti ruqyahnamun tidak pernah kesampaian. Ada saja hambatan. Bahkan bisikan dalam diri saya melarang dengan keras. Baru di akhir tahun 2004, tepat setahun setelah berkenalan dengan Majalah Ghoib saya mengikuti ruqyah massal. Waktu itu di sebuah kota di Jawa Tengah diadakan seminar dan ruqyah masal. Saya datang, karena saya sudah bertekad untuk keluar dari jalur perdukunan. Meski untuk itu saya harus melawan orangtua dan kakek yang mengharapkan saya mewarisi ilmu keluarga.
Meski untuk itu saya harus kehilangan harta yang melimpah. Dan saya harus memulai lagi dari nol. Bayangkan saya biasa mendapatkan uang empat ratusan ribu bahkan lebih untuk sekali terapi. Sebuah penghasilan yang sangat menggiurkan memang. Saat ruqyah masal itu, di dada saya ditaruh sebuah mushaf al-Qur'an. Anehnya, tubuh saya bergejolak. Aliran darah seakan terhenti. Tidak ada yang mengalir ke seluruh tubuh, hingga saya merasa sekujur tubuh saya kesemutan.
Tanpa sadar, saya berontak. Saya memukul ustadz yang menerapi. Bahkan al-Qur'an yang suci itu saya ludahi. Saya semakin kaget. Karena saya bisa melihat apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak kuasa menahannya. Saya berteriak dan tertawa terbahak-bahak.
Setelah ruqyah itu saya demam selama seminggu. Satu hal yang tidak pernah terjadi sejak dikompres jahe oleh kakek, dulu. Saya berubah menjadi seorang penakut. Saya merasa ada serombongan orang yang memanggil-manggil. Mereka menyuruh saya kembali. Kemana-manasaya selalu dicekam ketakutan. Meski demikian, saya beruntung. Karena sejak ruqyah pertama, saya mulai bisa menjalankan shalat. Meski awalnya berat, seperti ada yang membebani di punggung. Tapi setelah terus dilawan, akhirnya beban itu hilang dengan sendirinya. Hanya saja, setelah ruqyah pertama kemampuan saya semakin tajam. Pasien yang meminta jasapun semakin banyak. Pasien-pasien lama banyak yang kembali datang. Sebuah pertentangan batin yang berat memang. Di satu sisi, kehadiran mereka mendatangkan keuntungan materi dan kehormatan. Namun pada sisi lain, saya telah menyatakan mundur dari dunia perdukunan. Sebuah masa transisi yang sangat menyesakkan dada.
Namun keputusan sudah diambil. Saya tidak mau surut ke belakang. Apapun resikonya. Akhirnya dengan bahasa yang halus, saya menolak permintaan mereka. Saya mulai menyarankan mereka untuk menempuh cara yang tidak menyimpang dari agama. "Berdoalah kepada Allah dan lakukan shalat hajat," solusi seperti inilah yang pada akhirnya saya berikan kepada mereka.
Beberapa minggu setelah terapi pertama, saya ikut terapi ruqyah secara berkelanjutanSaat itulah saya merasakan tubuh saya memanjang. Saya hanya merasakan seperti melihat ular. Tanpa sadar, saya mendatangi ustadz. "Siapa kamu. Mengapa kamu membunuh anak buah saya?Percuma kamu membaca bacaan-bacaan itu karena tidak akan berpengaruh kepada saya. Saya tidak mempan oleh bacaan-bacaan itu," begitulah celotehan saya seperti dikisahkan seorang teman.
"Saya membunuh anak buahmu karena mereka masuk ke tubuh Nona dan mengganggunya," jawab ustadz. "lya, karena anak ini yang meminta. Dia meminta kepada saya dan saya hanyamengirimkan yang dia minta," jawab balik saya. Jin yang merasuk ke dalam tubuh saya itu membandel. Dia masih belum mau keluar.
"Jangan salahkan saya karena perempuan ini yang datang ke saya," ujar jin melalui bibir saya. "Perempuan ini sudah bertobat," ujar ustadz. "Tapi perempuan ini sudah memberikan perjanjian kalau dia akan memberikan semuanya kepada saya dan mengembalikan semuanyakepada saya," jin yang merasuki tubuh saya tidak mau mengalah. Dia terus mengoceh. Ketika ditawarkan untuk masuk Islam, jin itu tidak tahu. "Saya tidak tahu sama sekali apa itu Islam.Siapa itu Muhammad. Itu zaman kapan? Karena saya tidak hidup pada zaman itu. saya tidak mau bersyahadat, karena saya tidak mengenal Muhammad dan Islam," jin itu tetap membandel.
"Keluar dari sini," bentak ustadz. "Ya, saya akan keluar karena saya masuk dengan kemauan sendiri, maka saya bisa keluar dengan kemauan sendiri." Setelah mengucapkan kalimat itu, jin itu keluar saya pun tersadar. Jin yang merasuk ke dalam tubuh saya memang belum keluar semua. Tapi saya tidak berputus asa. Sudah belasan tahun mereka bertahan dalam tubuh saya, tentu mereka juga tidak mau keluar dengan mudah. Satu hal yang ingin saya pegang teguh, bahwa saya akan terus menempuh jalur ruqyah untuk membersihkan diri. Semoga Allah mengam-puni dosa-dosa saya. yang telah banyak menyesatkan orang melalui ilmu perdukunan yang saya kuasai.


Kisah Dan Tauladan(Khadam Jin)

Di bawah adalah kisah benar dari pengalaman pesakit di sebuah pusat rawatan Ruqyah Syar’iyah di Negara jiran. Diantara pengajaran dari kisah di bawah:
A)     Amalkan zikir-zikir yang di amalkan oleh rasulullah saw atau sekurang-kurang yang diajarkan oleh Ulama yang muktabar.
B)      Wirid dan zikir yang benar dan diterima Allah swt semakin banyak kita amalkan semakin bertambah takwa kepadaNYA. Jika sesuatu wirid itu dikatakan misalnya “ kalau wirid ini diamalkan terlalu banyak, ia akan memberi kesan ‘panas’.” Maka tinggalkanlah kerana bertentangan dengan firman Allah swt yang  memerintahkan kita untuk berzikir kepadanya sebanyak-banyaknya.
C)      Tinggalkan yang meragukan ambil yang diyakini bersumber dari Nabi saw.

Maksud Hati Berdzikir, Ternyata Jin yang Saya Dapat

Posted February 25, 2012 by Abu Zaid Al-Hawaary in Kesaksian.

Wiridan sih sah-sah saja. Bahkan wirid sendiri sangat dianjurkan dalam Islam. tentunya, selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran Rasulullah. Lain halnya bila wiridan itu diembel-embeli dengan puasa beberapa hari atau ritual tertentu lainnya. Buka apa-apa. Maksud hati ingin memperoleh ketenangan batin, tapi yang didapat justru sebaliknya. Diikuti oleh jin yang mengaku sebagai khadam. Istilah lain untuk pembantu atau pelayan dari bangsa jin. Inilah kenyataan yang idalami oleh Firmansyah (23 tahun), pemuda asli Betawi. Pemuda ini mengkisahkan pengalamannya kepada Majalah Ghoib di rumahnya Menteng, Jakarta Selatan.
Sewaktu sekolah Aliyah dulu, sekitar tahun 1996, saya mengalami suatu peristiwa yang membawa saya ke dalam pengembaraan panjang. Sebagai seorang pemuda yang bergelut dengan dunia jin melalui wiridan.

Peritiwanya terjadi pada suatu pagi yang cerah, saat saya sholat dhuha di masiid tua di daerah Kuningan. Saat itu, di dalam masjid tidak ada orang lain, hanya saya seorang diri. Kemudian mucul keinginan untuk belajar pidato. Maka dengan tenang layaknya seorang ustadz, saya melangkah ke mimbar. Lalu duduk sejenak di kursi. Saya raih tongkat yang ada kemudian bergaya seperti seorang khothib. Dan secara perlahan meski sedikit gemetar, saya latihan khutbah, “Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi …”

Nah, satu minggu setelah kejadian itu saya merasakan kehadiran seseorang yang tidak terlihat. Saya juga suka ngomong sendiri. Kalau di kelas badan terasa lemas dan tidak bergairah. Untuk menjawab soal pun terasa agak sulit. Selain itu, saya juga mudah kesurupan. Misalnya, ketika sedang mengikuti pengajian di sebuah masiid, tiba-tiba badan saya merinding. Merasa seperti itu, saya segera pulang. Begitu tiba di rumah saya langsung berteriak, “Hua ha ha …” Saya kesurupan. Kemudian bapak membaca ayat kursi, tapi jinnya tidak merasa apa-apa. Sepuluh menit kemudian jinnya itu pergi begitu saia.

Kesurupan ini seakan menjadi bagian dari hidup saya. Karena bisa dipastikan hampir tiap minggu saya selalu kesurupan. Kalau cuma sekali dua kali mungkin tidak terlalu masalah tapi bila berlangsung hingga satu tahun. Tentu sangat berat bagi saya. Akibatnya saya selalu hidup dalam ketakutan dan tidak punya gairah hidup.

Keadaan saya ini, ternyata tidak luput dari perhatian guru-guru. Hingga guru sosiologi menghampiri, “Kenapa kok lemes terus?” Akhirnya saya disuruh ke rumahnya. “Sepertinya ada yang aneh dalam dirimu” komentarnya setelah menuangkan minuman ke gelas. “Saya tidak tahu, Pak.” Kemudian saya ceritakan apa yang saya alami. Dari tatapan matanya saya tahu bahwa ia berempati kepada saya. Kemudian dengan bijak ia banyak menasehati dan mengajarkan beberapa amalan yang katanya bisa mengurangi beban saya.
Saya disuruh membaca Al-Fatihah untuk nabi Muhammmad, para wali dan para orang-orang tua saya. Kemudian membaca shalawat seratus kali dan Ya Lathif seratus kali. Lalu berdoa, “Ya Allah. Dengan kekuatan sayidina Umar berilah saya kekuatannya.”
Saya gembira sekali hari itu. Dan bertekad untuk mengamalkannya agar rasa takut itu hilang dan kembali bersemangat. Tapi ketika saya mengamalkan wiridan itu di rumah, saya terkejut. Kok saya teriak-teriak terus, “Hoh hoh hoh” badan saya menggigil dan gemetaran. Meski demikian saya terus saja membaca wiridan itu. Hasilnfa baru terasa seminggu kemudian. Ya, saya mulai tenang.

Sudah agak lama saya tidak kesurupan, hingga akhirnya jin itu datang lagi. Peristiwanya kali ini terjadi di rumah sakit. Saat saya terkena penyakit typus dan sudah stadium tiga. Walau itu sudah seminggu saya tidak shalat, harus terbaring lemah di atas ranjang dan tidak bisa berdiri. Tapi tiba-tiba saya bisa berdiri tegak kemudian berjalan dengan cepat. Hingga para pasien dan keluarganya keheranan. Tak lama kemudian, saya berbicara keras dengan suara bergetar. Tapi suaranya itu bukan suara saya sendiri “Saya mau shalat. Anak ini sudah meninggalkan shalat berhari-hari. Dia harus shalat sekarang.” Kemudian jin yang merasuki tubuh saya itu berceramah, sambil sesekali menepuk dada. Melihat itu, orang-orang pada ribut dan akhirnya membiarkan saya shalat. Ulah jin yang merasuki saya itu tidak berhenti sampai disini. la ingin membawa saya melompat dan terjun dari rumah sakit bertingkat itu. “Saya mau terjun. Saya tidak kuat di sini. Saya mau pulang” sampai banyak suster yang mau saya
Cekik.

Melihat itu, bapak berteriak. “Siapa kamu?” “Saya adalah syaikh Abdul Jabbar. Ha ha ha, saya selama ini yang mengikuti dia. Dan saya dihalangi khadam buyutnya. Saya tonjok mereka hingga babak belur. Saya adalah raja jin yang terkuat,” jawab jin yang merasuki saya.
Akhirnya pihak rumah sakit mengizinkan saya dibawa pulang. Namun, di tengah jalan mobil yang saya tumpangi mogok. Bapak saya menduga karburatornya yang rusak. Tapi setelah dibuka “cross” airnya muncrat ke muka bapak. Ketika sampai di rumah, saya melihat rumah yang selebar enam meter itu sepertinya kecil. Seakan hanya beberapa puluh senti saja. Kemudian saya tidak bisa tidur hingga beberapa hari.
Jin Abdul Jabbar keluar masuk tubuh dalam kondisi demikian, ada seorang teman yang menjenguk sambil membawa katanya “air wali”. Setelah dia meminumnya sedikit ia kemudian menyemprotkannya kembali ke badan saya. “Panaas” teriak jin yang merasuki saya. “Kamu belajar sama siapa?” Tanya jin. “Sama habib,” jawab teman saya. “Oh, bagus, bagus teruskan saja belajarmu.” Seolah jin itu menasehatinya. Kemudian teman saya membaca “Ya Allah, Ya Rahman … sampai kepada Ya Jabbar.” Kemudian jin tertawa terbahak-bahak, “Ha ha ha. ltu nama saya. Kamu bacakan apa saja, pasti tidak mempan karena saya jin lslam. Saya hafal 30 juz.” Setelah merasa tidak marnpu mengobati,saya, akhirnya teman saya itu pulang.

Dua hari kemudian, di pagi yang cerah saya dibawa ke rumah habib. Tapi anehnya habib itu sudah ada di depan rumah. Seolah dia sudah menunggu kedatangan saya. Pas ketika saya masih berdiri terpaku di depan rumahnya, “sreet” saya merusakan ada sesuatu yang keluar dari tubuh saya. Kemudian bapak ngobrol agak lama dengan habib. Dan setelah meminum air dari habib, kami segera pulang. Tapi, hanya beberapa menit istirahat di rumah, saya kesurupan lagi. Jin Abdul Jabbar itu datang lagi. Katanya dia takut sama habib itu dan sempat keluar.
Keesokan malamnya, sehabis shalat maghrib saya diantar seorang tetangga ke Cibinong untuk bertemu dengan seorang kiyai. Aneh, setelah keluar dari tol, sopir itu tidak lagi tahu arah. Berkali-kali ia bertanya, namun tetap tidak tahu arah. Sementara di luar, cuaca gelap, langit tak berbintang. Disertai dengan hembusan angin kencang yang terus mendesing di telinga, seakan hujan akan turun dengan lebatnya. Saat saya melihat ke arloji, ternyata sudah pukul 10 malam. Tak lama kemudian, lnnalillah, mobil itu mogok di perkebunan dan tidak bisa dihidupkan lagi, lalu saya kesurupan lagi, “Ha ha ha. Saya mogokin mobilnya.” Akhirnya kita berlima jalan kaki, walau hawa dingin terasa menusuk tulang. Dan, setelah memperhatikan sekeliling beberapa saat, akhirnya sopir itu tahu bahwa kita sudah hampir sampai di rumah kiyai. Kira-kira hanya berjarak 300 meter.

Alhamdulillah, akhirnya sampai ke tempat tujuan juga, setelah tersesat beberapa jam. kira muat untuk sepuluh orang. Kamar itu beralaskan karpet plastik, dengan jendela dan pintu di belakangnya. Lalu bapak saya menyerahkan dua butir telur ayam kampung. Pak kiyai mengambilnya sebutir lalu memecahkan dan mencampurnya dengan minyak lulur, yang dipakai untuk pijat saya.

Selama pemijatan itu, terdengar suara pintu “Gubrak gubrak”, padahal pintu itu sudah ditutup tapi selanjutnya terbuka lalu tertutup lagi, begitu seterusnya. Tak lama kemudian saya mulai kesurupan “Ha ha. Akulah Abdul Jabbar. Saya dari zaman syaikh Abdul Qadir Jailani. Saya berumur 900 tahun. Saya senang anak ini karena dia rajin ibadah. Tapi saya juga benci, sebab dia dulu berani naik mimbar. Padahal mimbar itu bukan tempatnya. Yang berhak naik ke mimbar itu adalah orang-orang yang berilmu. Dan jangan permainkan tempat saya. Kalau tidak. Saya bunuh anak ini.” Tak lama kemudian saya tidak sadarkan diri. Dan, setelah sadar tahu-tahu pengobatan itu sudah selesai. Sejak saat itu jin Abdul Jabbar entah karena apa, tidak datang lagi. Walau sebenarnya jin itu masih bersarang di tubuh saya.
Wiridan yang Ternyata Penuh Jin

Dua bulan kemudian, saat kelas 3 Aliyah saya mempelajari wiridan miftahul hizb. Wiridan-wiridan itu saya baca semua kemudian saya berdoa “Ya Allah, hamba mohon diberikan ilmu dhahir batin dan ditunjukkan jalan ilmunya Rasulullah.” Setelah mengamalkan wiridan ini setiap hari maka pada hari ke 13, 14 dan 15 saya berpuasa seperti puasa Ramadhan. Katanya wiridan ini tanpa menggunakan khadam dari jin. Katanyaa, ilmu yang dihasilkan dari wiridan ini berasal langsung dari kemukjizatan Rasulullah. Mendengar penjelasan yang demikian – waktu itu – saya percaya begitu saja.

Hasil pengamalan wiridan ini, diluar dugaan saya.Yang dulunya saya sering kesurupan, tapi sekarang berbalik. Saya bisa mengobati orang kesurupan. Selain itu, saya juga bisa menerawang. Ya, saya bisa menebak watak seseorang yang belum saya kenal sama sekali. Suatu hari saya bertemu seseorang kemudian saya menerawang dia, “Kamu orangnya pemarah, egois. Kamu juga sedang menghadapi masalah.” Dia bingung, “Lho kok kamu tahu gitu.” “Ya saya tahu saja. Kamu bermasalah dengan atasan kamu, kan?” kata saya lagi. Akhirnya dia makin terpana dan semakin tertarik dengan terawangan saya. Kemudian saya menerawang temannya, “Orangnya putih, hidungnya mancung dan rambutnya agak ikal.” “Lho kok kamu tahu!” Teman baru saya itu semakin terbengong-bengong. Sebenarnya semua yang saya katakan itu tergambar dengan jelas dipikiran saya begitu saja.
Pada kesempatan lain, ada seorang tetangga yang kehilangan burung. Akhirnya dia beranya kepada saya. Dan dengan reflek tangan saya bergerak, “Seeet”. “Tuh burungnya ada di situ.” Tangan saya menunjuk ke arah tertentu. Akhirnya tetangga itu menyebutkan nama satu persatu. “Namanya si Arman.” “Bukan” kata saya sambil tangan saya mengisyaratkan tidak benar. “Namanya si Atong” katanya lagi. “lya, benar itu dia.” Akhirnya burungnya dicari dan ketemu. Betapa malunya si pencuri yang ketangkap basah itu. Tapi anehnya keesokan harinya saya kehilangan motor. Kemudian saya coba menerawang dengan ilmu saya. Saya tunjuk ini dan itu. Tapi tidak bisa menemukan motor itu hingga sekarang.

Rupanya keahlian saya itu, mengantarkan bapak dan adik untuk mempelajari ilmu sejenis. Meski mereka belajar dari guru yang berbeda. Nah, untuk membuktikan ilmu perguruan mana yang lebih hebat, akhirnya saya dan bapak sepakat untuk diadakan uji kekuatan. Tempatnya di rumah saya. Saat itu, ada tiga orang yang mengetes saya. Setelah pasang kuda-kuda kemudian saya dipukul. Ternyata pukulan itu mengenai wajah saya dan tidak bisa saya elakkan. Padahal sebelumnya saya bisa menghindari dan mementalkan pukulan siapa saja. Saya belum menyerah. Dan dilakukan pengujian ulang. Saya bertahan dengan cara lain, tapi saya tetap kena pukulan. Akhirnya saya mengaku kalah dan berguru dengan mereka, untuk mempelajari ilmu Karamah. Peristiwa ini terjadi pada tahun pertama ketika saya kuliah di UlN.
Sebelum dibaiat atas keberhasilan mempelajari ilmu Karamah, saya disuruh puasa tiga hari dan membaca wiridan juga selama tiga hari, “Ya Allah. Ya Rasulullah. Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani disuhunkeun karamahna ku abdi gusti suryajana negara (Ya Allah. Ya Rasulullah. Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani dimintakan karamahnya kepada saya gusti suryajana negara) la haula wala quwata illa billahil ‘aliyil adhim” kemudian di test. Orang yang memukul gaya itu terpental semua.

Setelah mengamalkan wiridan ini, saya merasakan adanya perubahan. Orang jadi takut sama saya. Sebaliknya, saya menjadi lebih berani. Pernah saya terjebak tawuran pelajar. Ketika saya ditimpuk dengan batu, tiba-tiba batu itu terpental sendiri sebelum mengenai saya. Akhirnya para pelajar itu kabur, ketakutan. Kondektur bis juga takut. Saya pernah marah dengan kondektur. Hanya gara-gara kurang ongkos. Waktu itu tarif bus untuk mahasiswa hanya seratus sementara penumpang umum membayar limaratus. Kebetulan, saya membayar tigaratus. Tapi, kondektur bis itu tidak percaya. “Kalau kamu mahasiswa bayar seratus juga saya terima,” kata kondektur itu. “Ya sudah kalau berani sini,” saya menantangnya. Ketika sudah dekat, dia ketakutan. Sepertinya dia melihat sesuatu yang menakutkan.
Selain ilmu di atas, saya juga mempelajari dua ilmu lainya. Yang pertama adalah ilmu kebal dan yang kedua wirid Sakran. Saya tidak tahu, mengapa saya seperti haus berbagai macam jenis ilmu. Sehingga saya sering berguru dari satu tempat ke tempat lainnya. Misalnya, saat itu saya juga belajar wirid sakran. Wiridan itu diamalkan setiap selesai shalat wajib selama tujuh minggu dan puasa Senin-Kamis selama tujuh minggu juga. Dengan niat “Aku niat puasa sunnah karena Allah untuk amalan wirid syaikh Habib Ali Abu Bakar As-Sakran.”

Sesudah seluruh ritual dalam tujuh minggu itu selesai, malamnya saya bermimpi sampai dua kali. Mimpi pertama adalah mimpi basah. Dan setelah bangun kemudian tidur kembali saya bermimpi berada di sebuah masjid yang besar di wilayah Tarim, salah satu daerah di Hadhramaut, Yaman. Di dalam masjid itu saya bertemu dengan orangtua. Yang memperkenalkan dirinya sebagai Habib Muhammad bin Abdul Rahman Assegaf. Kemudian ia menuntun saya berdoa di samping makam habib Ali bin Abu Bakar As-Sakran.
Beberapa hari kemudian, saya ceritakan mimpi itu kepada guru. Katanya mimpi itu menjadi wangsit bahwa wiridan saya sudah disahkan. Selang beberapa hari kemudian, ketika sedang berbaring di tempat tidur, tiba-tiba saya mendengar suara yang tidak saya ketahui darimana sumbernya, “Assalaamu’alaikum. Sekarang tuan adalah majikan saya. Dan saya adalah khadam tuan.”

Beberapa hari berikutnya saya sering kesurupan setelah tarawih di mushola. Di tengah kerumunan jamaah laki-laki. “Assalaamu’alaikum. Kenalkan nama saya Abdul Lathif.” Anehnya banyak jamaah yang bahkan menjadikan iin yang merasuk ke tubuh saya sebagai teman bercanda. “Namanya siapa ki?” Tanya sebagian jamaah. “Nama saya Abdul Lathif. Saya dari Baghdad. Saya khadamnya Firmansyah.” Terus banyak yang minta macam-macam. “Saya minta jodoh dong?” pinta seorang dari mereka. “Lu, yang cocok sama lu orangnya yang pendek,” kata Abdul Lathif melalui mulut saya. Mendengar jawaban itu, sontak jamaah tertawa terpingkal-pingkal.
“Saya minta nomer togel nih,” Tapi jin itu langsung menggerakkan tangan saya untuk mengambil buah dan melempar yang meminta, “Maksiat nanya-nanya sama gue,” kata jin Abdul Lathif.

Pernah iuga iin yang merasuk ke tubuh saya itu mengambil kopi dan meminumnya, “Nih, air bekas saya ini berkah” tak tahunya jamaah yang berada di sekitar saya langsung berebut meminum kopi itu. Peristiwa seperti ini teriadi sekitar sepuluh kali selama Ramadhan. Dan waktunya selalu setelah tarawih. Sebelum pergi jin itu pamitan dulu, “Sudah tidak ada pertu lagi dengan saya? Saya pergi dulu ya. Assalaamu’alaikum”. Setelah peristiwa demi peristiwa itu, akhirnya banyak yang konsultasi dengan saya. Dan, untuk menjawabnya, saya gabungkan saja berbagai keilmuan yang saya miliki.

Sehabis Ramadhan, jin Abdul Lathif masih sering merasuk ke tubuh saya. Bahkan saat saya sedang mengajar anak-anak remaia. Disini dia mulai mengisi anak-anak remaja itu. “Ki, saya sering lewat daerah-daerah tawuran. Minta penjagaan dong?” pinta seorang anak. “Ya, sini! Kamu baca “Asyhadu alla ilaha ilallah. Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. La haula wala quwwata ila billah.” lalu ia menjabat tangan anak yang diberi ilmu. Pada mulanya, jin Abdul Lathif baru datang setelah saya panggil. Dengan membaca Al-Fatihah untuk nabi. Kemudian shalawat untuk habib yang menciptakan wiridan ini. Setelah itu, saya memanggil “Ya Lathif” sambil menjejak bumi tiga kali. Setelah itu lin Abdul Lathif datang dan merasuk ke tubuh saya. Tapi lama kelamaan kedatangannya tidak lagi bisa saya kendalikan.
Awal Datangnya Hidayah.

Aktifitas di pengaiian anak remaja, terus menggiring saya untuk berkenalan dengan beberapa aktifis dakwah lainnya. Nah, dari sini saya sering tukar pengalaman dan berbagi cerita. Sejujurnya, saya katakan pada mereka bahwa saya punya ilmu-ilmu teftentu. Yang waktu itu, saya menyebutnya llmu kemukjizaan. Saya juga punya khadam dari jin dan menurut pendapat saya meminta bantuan jin juga tidak apa-apa. Pendapat saya ini dibantah oleh teman-teman. “Lho, itukan bacaan-bacaan lslami. Bacaan shalawat. Bacaan-bacaan Alquran,” saya mencoba beradu argumentasi. “Walaupun itu Asmaul Husna, tapi kalau itu buat kebal saya tidak percaya,” kata teman saya.
Seiring dengan semakin lama berinteraksi dengan mereka, saya merasa ada keanehan. Badan saya panas setiap hari. Saya juga sakit flu tidak henti-hentinya. Dan, setelah membaca artikel di majalah Ghoib, saya mulai meragukan kebenaran jalan yang saya tempuh selama ini.
Hal ini semakin diperparah dengan situasi rumah tangga yang sedikit mengalami goncangan. Dari sini saya mulai tidak yakin akan kebenaran ilmu saya. Akhirnya saya pergi ke Majalah Ghoib. Saat tiba di kantor Majalah Ghoib, saya merasa takut sekali. Kepala saya bergetar tanpa dapat saya kendalikan. Tidak seperti biasanya. Kemudian saya diterapi Ustadz Ahmad Junaidi. Saat itulah jin yang bersarang di tubuh saya dikeluarkan. Pada ruqyah pertama saja, kata ustadz Junaidi ada sekitar sepuluh jin yang keluar, tentu menurut pengakuan jin itu. Ada jin Abdul Jabbar, jin Konghuchu, jin Kristen, jin Budha dan yang paling bandel keluarnya adalah jin Abdul Lathif.

Ketika jin Abdul Lathif diruqyah ia berbicara dengan ustadz Junaidi dengan bahasa Arab. “Saya dari Baghdad. Cuma saya lama di Surabaya,” katanya. “Kenapa kamu masuk ke orang ini?” tanya ustadz Junaidi. “Siapa suruh. Yang baca wiridan itu dia. Ya, saya masuk. Kalau wiridan itu tidak dibaca, saya tidak masuk,” kata jin Abdul Lathif lagi. “Berarti kamu telah sesat dan menyesatkan” bentak ustadz Junaidi. Mendengar bentakan itu, jin Abdul Lathif hanya bisa diam. Kemudian jin itu berdoa seraya meminta pertolongan kepada Ali. “Ya Ali. Anqidzni (lolonglah aku).” “Jin, doamu ini syirik,” kata ustadz Junaidi. “Saya kan tawasul, ustadz,” ujar jin itu mempertahankan diri.
“Tawasul dengan dzat selain Allah itu berarti syirik,” kata ustadz Junaidi. “Tidak. lni tidak syirik. Saya berpegang teguh dengan manhaj Zainal Abidin,” kata jin Abdul Lathif masih membandel. Dia susah dikeluarkan. Karena badan saya sudah kecapekan, akhirnya ruqyah hari itu diakhiri juga. Meski sebenarnya saya masih merasa bahwa jin Abdul Lathif itu belum bisa dikeluarkan. Karena itu ustadz Junaidi menyuruh saya untuk datang lagi minggu depan. Disamping itu says dianjurkan untuk terus berdzikir dan melakukan terapi ruqyah secara mandiri.
Alhamdulillah setelah terapi ruqyah yang keenam, sekarang sqra sudah baik kembali tinggal sedikit pusing di kepala bagian belakang.

Begitulah sepenggal kisah yang saya yakin banyak dialami oleh orang lain, bergelut dengan dunia jin tanpa disadarinya. Atau bahkan sebagian orang menganggap ini merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah. Namun, pada akhirnya saya harus mengakui bahwa pendapat yang demikian itu salah. Saya berharap kisah ini dapat menjadi renungan tersendiri, bagi siapapun yang berkenan.

Jumaat, 3 Januari 2014

Penyakit ‘Ain Dan Cara Rawatannya(Siri Pertama)

Di dalam Fath al-Bari, Al-hafiz Ibn Hajar berkata : “Penyakit ‘ain adalah pandangan mata yang disertai pujian bersekali diiringi kedengkian lantaran memiliki tabiat jahat dan mengakibatkan orang yang dilihat mengalami kemudaratan.”

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda : “Penyakit ‘Ain  itu benar-benar adanya, Jika seandainya ada sesuatu yang boleh mendahului qodar/takdir ,tentulah ia adalah penyakit ‘ain.Jika kamu diminta untuk mandi(untuk mengubat penyakit ‘ain) maka mandilah.  (hadith  riwayat  Muslim, hadith yang hampir sama juga di riwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari )

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,Rasululloh saw bersabda :Mintalah kamu perlindungan kepada Allah dari penyakit ‘ain karena sesungguhnya ‘ain itu adalah benar (Hadith Riwayat Ibnu Majah)

Di dalam hadith yang lain Nabi saw bersabda:

 “ Kebanyakan umatku meninggal dunia yang sememangnya merupakan qadak dan qadar Allah adalah disebabkan oleh penyakit ‘ain.”      (Hadith ini disebut oleh al-Haitsami di dalam Majma’ al-Zawa’id 5/160 daripada Jabir bin Abdullah(r.a) dan berkata:”Hadith ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dan perawainya adalah perawi soheh selain Thabib bin Habib bin ‘Amar.Beliau adalah seorang thiqah.” Hadith ini disohehkan oleh al-Hafiz Ibn Hajar)

Dari Amir bin Robi’ah ra :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ
Rasullulloh saw bersabda : “Jika seorang dari kamu melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ‘ain itu adalah benar”. (HR Ahmad).

  
Penyakit ‘Ain berkemungkinan terjadi meskipun tanpa disengajakan oleh pelakunya

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa terkadang seseorang boleh mengarahkan ‘ain kepada dirinya sendiri.

Lupa dan tidak bersyukur pada Allah swt serta melihat kebun dengan takjub akan keindahannya menjadi asbab kemusnahan kebun berkenaan

39. Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, "Maasya Allah, laa quwwata illaa billaah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu
40. Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari kebunmu (ini); dan Dia mengirimkan petir dari langit ke kebunmu; sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.

                                                                                                                        surat Al-Kahfi ayat 39-40.

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan :”Ketika engkau masuk suatu kebun dan kau merasa takjub akan keindahannya,mengapa engkau tidak memuji Allah atas nikmat yang telah diberikan kepadamu seperti nikmat harta dan anak keturunan yang tidak diberikan kepada selain engkau dan mengapa kamu tidak mengucapkan masya’Allah la quwwata illa billah. Ayat 39 surah Al-Kahfi sering saya gunakan di dalam ruqyah bagi penyakit ‘ain yang tidak diketahui puncanya. Ditiup ke dalam air untuk tujuan minum dan mandi.

Namun terkadang pengaruh buruk ain terjadi tanpa disengajakan dari orang yang memandang takjub terhadap sesuatu yang dilihatnya. Lebih dari itu kesan buruk pandangan mata ini juga boleh terjadi dari orang yang hatinya bersih atau orang-orang yang soleh sekalipun mereka tidak bermaksud menimpakan ‘ain kepada apa yang dilihatnya. Hal ini pernah terjadi kepada para sahabat Nabi saw, padahal hati mereka terkenal bersih,tidak ada rasa irihati atau dengki terhadap sesamanya.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّهُ قَالَرَأَى عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ يَغْتَسِلُ فَقَالَ مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ وَلَا جِلْدَ مُخْبَأَةٍ فَلُبِطَ سَهْلٌ فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامِرًا فَتَغَيَّظَ عَلَيْهِ وَقَالَ عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ أَلَّا بَرَّكْتَ اغْتَسِلْ لَهُ فَغَسَلَ عَامِرٌ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَمِرْفَقَيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ وَأَطْرَافَ رِجْلَيْهِ وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ فِي قَدَحٍ ثُمَّ صُبَّ عَلَيْهِ فَرَاحَ مَعَ النَّاسِ

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl bin Hunaif sedang mandi, lalu berkatalah Amir : ‘Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang secantik  ini” Maka jatuh sakitlah Sahl. Kemudian Rasulullah saw mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata :”Atas dasar apa kamu mahu membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya.Maka Amir mandi dengan menggunakan satu bekas air, dia mencuci wajahnya,dua tangan,kedua siku,kedua lutut,ujung-ujung kakinya,dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.
(HR Malik dalam Al-Muwaththo 2/938, Ibnu Majah 3509, disohehkan oleh Ibnu Hibban 1424. Sanadnya soheh,para perawinya terpercaya,lihad Zadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Abdul Qadir al-Arnauth 4/150 cetakan tahun 1424 H)

Hadith ini menjelaskan penyakit ‘ain dan juga kaedah rawatannya. Jika diketahui pemilik pandangan yang menyebabkan penyakit itu, maka diminta sipenyebab mengambil wuduk. Air wuduk tadi dijadikan mandian kepada orang yang terkena ‘ain.

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa penyakit ‘ain ada dua jenis :’ain insi (‘ain berunsur manusia) dan ‘ain jinni (‘ain berunsur jin).

Diriwayatkan dengan shahih dari Ummu Salamah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah melihat seorang budak wanita di rumahnya yang wajahnya terlihat kusam. Beliau berkata,”Ruqyah wanita ini, ia terkena ‘ain.
(Dikeluarkan oleh Al-Bukhori dan Muslim,Al-Hakim,Abu Nu’aim dan Al-Isma’ili dalam Mustakhroj-nya serta Ath-Thobroni)

Al-Husain bin Mas’ud Al-Farro berkata :Adapun sabda beliau “sa’fatun(kusam) bermakna “Nadzrotun” (terkena ‘ain dari unsur jin).


Bersambung insha Allah


Khamis, 2 Januari 2014

Contoh Ke Dua Ruqyah Nabi Saw

Abdul Rahman telah meriwayatkan sebuah hadith dari ayahnya iaitu Abu Laila sebagai berkata:

“Ketika aku sedang duduk bersama Nabi saw, tiba-tiba datang seorang lelaki baduwi,lalu berkata:
‘Aku mempunyai seorang saudara(adik beradik) yang sekarang ini sedang mengidap penyakit’.
‘Apa penyakit yang dihadapinya?’,Tanya Rasulullah saw.
‘Dia terkena penyakit sasau’.
‘Bawa dia kemari’.ujar Rasulullah saw.

Setelah mangsa itu dibawa dan didudukkan dihadapan baginda saw., aku mendengar baginda menjampinya(ruqyah) dengan membaca surah:
   . Al-Fatihah
   . Empat ayat dari awal surah al Baqarah
   . Al Baqarah ayat 163&164
   . Ayat Kursiy
   . Tiga ayat terakhir surah al-Baqarah
   . Al-Imran ayat 18
   . Al-A’araf ayat 54
   . Al-Mukminun ayat 117
   . Surah Jin ayat 3
   . As-Soffaat ayat 1 hingga 10
   . Tiga ayat terakhir  surah al-Hasyar
   . Surah Al-Ikhlas
   . Surah al-Falaq
   . Surah An-Naas

                                                                                    Hadith Riwayat Ibnu Majah.

Rabu, 1 Januari 2014

Kategori Gangguan Makluk Halus



Penyakit itu banyak puncanya, bagi saya jika punca penyakit itu bersumber dari gangguan makhluk halus dan penyakit ‘ain maka tiada istilah alternatif bagi merawatnya. Maksud saya hanya kaedah yang diajarkan Rasullah SAW sahaja jalan yang terbaik dan paling selamat .

Melalui penelitian saya gangguan makhluk halus boleh dipecahkan kepada enam kumpulan:

1.Gangguan Sihir yang dihantar.
2.Gangguan Sihir Saka(berpunca dari amalan salah diri sendiri mahupun keluarga).
3.Gangguan Jin berpunca dari kemarahan Jin berkenaan kpd pesakit.
4.Gangguan Jin berpunca dari ke’cintaan’ Jin berkenaan kpd pesakit.
5.Gangguan Jin selain dari empat sebab di atas(keluar masuk tanpa sebab tertentu)
6.Penyakit berkaitan pandangan mata(penyakit ‘ain) . Samada ‘ain manusia ataupun ‘ain Jin.

Kategori 1 hingga 5 biasanya mempunyai ‘khadam’ dan ‘barangan sihir’. Manakala kategori 6 adalah berkaitan dengan roh. Sesetengah pesakit mempunyai kesemua semua set di atas dan sesetengahnya kombinasi tertentu.Namun kadang kadang hanya satu punca sahaja.

Rawatan Ruqyah dan doa itu asasnya sama cuma teknik dan cabangnya pelbagai. Spt bidang yg lain,bidang ini juga punya khilafnya. Saya kongsikan sebuah video ruqyah secara beramai-ramai.

Lautan ilmu ini begitu luas. Kita dianugrahkan satu ilmu bagi menjawab satu 'persoalan',namun datangnya satu ilmu itu mungkin bersamanya 10 persoalan yang lain pula. Ya Allah, daku ini amat fakir di hadapanMU,tuhan yang maha kaya lagi maha terpuji.

http://www.youtube.com/watch?v=bFAsMhZf1A0

Selasa, 31 Disember 2013

Kisah Dan Pengajaran(Gangguan Sihir Saka)

Semasa berbicara soal ‘konsep perubatan Islam’ saya kongsikan  dua aliran pandangan sarjana Islam.(boleh baca semula catatan yg berkenaan http://pakcikrah.blogspot.com/2013/11/konsep-perubatan-islam.html). Penyakit itu banyak puncanya, bagi saya jika punca penyakit itu bersumber dari gangguan makhluk halus dan penyakit ‘ain maka tiada istilah alternatif bagi merawatnya. Maksud saya hanya kaedah yang diajarkan Rasullah SAW sahaja jalan yang terbaik dan paling selamat .

Melalui penelitian saya gangguan makhluk halus boleh dipecahkan kepada enam kumpulan:

  1.  Gangguan Sihir yang dihantar.
  2.  Gangguan Sihir Saka(berpunca dari amalan salah diri sendiri mahupun keluarga).
  3.  Gangguan Jin berpunca dari kemarahan Jin berkenaan kpd pesakit.
  4.  Gangguan Jin berpunca dari ke’cintaan’ Jin berkenaan kpd pesakit.
  5.  Gangguan Jin selain dari empat sebab di atas(keluar masuk tanpa sebab tertentu)
  6.  Penyakit berkaitan pandangan mata(penyakit ‘ain) . Samada ‘ain manusia ataupun ‘ain Jin.

Kategori  1 hingga 5 biasanya mempunyai ‘khadam’ dan ‘barangan sihir’. Manakala kategori 6 adalah berkaitan dengan roh. Sesetengah pesakit mempunyai kesemua semua set di atas dan sesetengahnya kombinasi tertentu.Namun kadang kadang hanya satu punca sahaja.
Mohon doakan saya direzeki oleh Allah Jalla wa’ala untuk berkongsi kesemua kategori di atas. Namun untuk tulisan kali ini saya kongsikan sebuah kisah benar bagaimana seseorang itu boleh tersilap memasuki ilmu yang berkaitan alam Jin.Kemudian bagaimana Allah swt menyelamatkan beliau. Kisah di bawah sekurang kurang memberi kita gambaran umum:
  1.    Kaitan Jin dengan tenaga dalam.
  2.    Kaedah yang tidak mengikut sunnah menjerumuskan manusia kepada kesesatan.
  3.    Bagaimana sesuatu proses sihir saka bermula. Kesan memiliki Jin Saka(saya kategorikan sebagi kes no.2)
  4.    Bagaimana Al-Quran menjadi asbab penyembuhan .
  5.    Adanya orang orang soleh yang memasuki spectrum 3.3(sila rujuk http://pakcikrah.blogspot.com/2013/11/mampukah-manusia-melihat-jin-siri_20.html juga siri 2 dan siri 3 untuk memahami apa yang saya maksudkan.
  6.     Dan banyak lagi pengajaran yang boleh diambil


PENGALAMAN ADMINISTRATOR “METAFISIS.WORDPRESS.COM” SELAMA MEMPERDALAM ILMU TENAGA DALAM & ILMU METAFISIKA

Januari 23, 2010 by Perdana Akhmad S.Psi

Nama lengkap saya adalah Perdana Akhmad, saya adalah Alumni Universitas Islam Indonesia angkatan 1999 di Yogyakarta pada jurusan Psikologi. Saya lahir di Baturaja, Sumatera Selatan 12 oktober tahun 1980. Saya lahir ditengah-tengah keluarga yang memang suka akan ilmu-ilmu kesaktian, dimana Ayah saya masa mudanya suka sekali berguru ke-orang “pintar” untuk belajar kesaktian bahkan dari penuturan Ayah saya ia pernah melakukan tapa pendem yaitu mengubur diri dalam tanah sebagai syarat untuk mendapat ilmu kesaktian tertentu di daerah Banten. Ayah saya semasa saya kecil pernah mendemonstrasikan kemampuannya kepada kami sekeluarga yaitu mematikan lilin dari jarak jauh dengan tenaga dalamnya, juga mendemonstrasikan kemampuan memecahkan batu kali yang lonjong sebesar pergelangan tangan dengan pukulan tangannya. Begitu juga dengan adik-adik Ayah saya, mereka semuanya ikut perguruan tenaga dalam dan sering “mengobati” orang sakit dengan tenaga dalamnya itu. Maka dari itu sedari kecil saya sangat ingin seperti Ayah saya juga Om-om saya itu.


Perburuan saya mencari ilmu ghoib dimulai pada saat saya duduk dibangku SMP di Kota Manna Bengkulu Selatan, saya ikut perguruan tenaga dalam Budi Suci dimana saya mempelajari jurus-jurus tertentu dengan olah pernapasan, lalu ketika dibangku SMA saya masuk Perguruan tenaga dalam Marga Luyu dan juga Seni Nafas Indonesia, saya dalam berlatih tenaga dalam sudah mencapai tataran yang cukup tinggi waktu itu.

Pada masa SMA ini saya mulai mengenal dengan namanya makhluk halus, dimana sewaktu latihan Guru saya dari perguruan Marga Luyu waktu itu punya kemampuan menarik makhluk-makhluk halus lalu dimasukkan kedalam tubuh teman saya dan kemudian bisa tanyai berbagai macam hal. Saya juga belajar ngampat dimana saya belajar untuk menghadirkan makhluk halus yang saya ingini kedalam tubuh saya atau orang lain. Setelah lulus dibangku SMA tahun 1999 saya pergi ke Yogyakarta dan kuliah di Universitas Islam Indonesia. Di Yogyakarta ini saya tidak lagi masuk perguruan berbasis tenaga dalam lagi namun masih suka berlatih sendiri olah pernapasan.

Saya pada tahun ini juga mengenal Reiki dari Toko buku Gramedia dimana saya melihat ada buku tentang suatu aliran Reiki Tummo dan menginformasikan adanya Lokakarya Reiki Tummo di Yogyakarta, rasa keingintahuan saya begitu tinggi akan ilmu penyembuhan dengan menggunakan energi Ilahi atau alam semesta dan peningkatan spiritualitas seperti yang diberitahukan dalam Buku. Lalu saya mengikuti lokakarya Reiki itu pada tingkat level 1 langsung pada aliran Reiki Tummo yang katanya lebih baik dari aliran Reiki Usui. Saya memang merasakan sensasi yang aneh dimana saya bisa merasakan geraran-getaran pada tangan saya sebagai tanda energi telah mengalir, bertambah semangat saya untuk mempelajari Reiki lebih jauh maka saya mulai membeli semua buku-buku yang berhubungan dengan Reiki. Saya mulai sering bermeditasi Reiki dan membaca buku-buku tentang Reiki, mengkaji, mendengarkan penuturan para praktisi Reiki yang senior tentang ajaran-ajaran spiritualitas yang ternyata banyak dipengaruhi ajaran-ajaran Budha dan Hindu. Namun waktu itu saya terus mengkajinya karena saya pikir Nabi Muhammad saja memberitahukan agar kita agar belajar kenegeri Cina untuk mencari ilmu pengetahuan.

Selain memperdalam Reiki saya juga mengikuti pengajian di Pesantren Ihya Assunah Degolan di Yogyakarta dan masuk dalam keanggotaan Laskar Jihad yang telah dibentuk, karena waktu itu sedang ramai-ramainya berita tentang pembantaian kaum muslimin di Maluku dan Poso.Pada keanggotaan saya di Laskar Jihad ini saya mulai ragu-ragu akan “kebersihan” Ilmu-ilmu tenaga dalam dan juga Ilmu Penyembuhan Reiki, dimana anggota Laskar Jihad sangat ditekankan menjauhi syirik, khurafat maupun bid’ah dalam ibadah maupun pada saat berjihad. Lalu pada pertengahan tahun 2000 saya berangkat ke Ambon dan berjihad disana, di Ambon saya praktis tidak memakai tenaga dalam juga Reiki (dengan membentuk bola energi perlindungan Reiki atau memagari diri dengan kekuatan tenaga dalam) dalam berperang namun hanya dengan membaca amalan zikir.

Setelah peristiwa Kebon Cengkeh berdarah 14 Juni 2001 (semoga ke lima teman saya dan kaum muslimin Ambon yang meninggal mendapat predikat syahid dari Allah Ta’ala,Amin) saya pulang ke Yogyakarta dan melanjutkan kuliah kembali. Saya lalu kembali memperdalam Reiki dengan kembali mengikuti lokakarya Reiki Tummo pada tingkat level 2. Saya juga mengikuti Attunenent aliran Reiki Tao secara reiju jarak jauh pada sebuah yayasan Reiki Tao yang cukup terkenal di Jakarta dan mengikuti lokakarya aliran Neo Zen Reiki pada Master Reiki Anand Khrisna di Yogyakarta dan juga membeli buku-buku karangannya yang cukup laris waktu itu.

Saya waktu itu mulai sedikit-demi sedikit mulai terpengaruhi ajaran tentang reinkarnasi yaitu dengan Reiki saya bisa memutus siklus kelahiran kembali didunia, dengan Reiki dan kebangkitan kundalini saya bisa mendapatkan kekuatan-kekuatan ghaib dan peningkatan spiritualitas. Saya lalu mulai ikut berbagai mailinglish aliran Reiki di Internet seperti mailinglish Mahameru, Reiki Tao, Reiki Sufi, Caraka Reiki, Nur Ilahi, Shing Chi, Reiki Chakra , Sirna Galih, PHL, Peace One Earth , Peace One Earth Indonesia dan mulai mendapatkan Attunement (penyelarasan energi) berbagai macam aliran Reiki hingga pada tingkat Master Pengajar lebih dari 30 aliran Reiki yang saya dapatkan hingga pada tingkat Master Pengajar yang dapat memberikan attunement Reiki pada orang lain.

Saya juga sering memberikan attunement Reiki pada teman-teman dekat saya dan kepada para sesama praktisi Reiki yang ingin mendapatkan attunenent energi tertentu yang telah saya kuasai. Saya menjadi sering bermeditasi dan rajin berlatih Reiki, tetapi dalam memperdalam Reiki ini saya malah sering menderita berbagai macam penyakit yang kelihatannya ringan seperti pusing kepala, dada sesak, sampai sakit atau panas pada bagian-bagian tubuh tertentu secara terus-menerus, tapi menurut para praktisi Reiki itu wajar dalam proses “pembersihan” energi kundalini. Saya juga mulai lagi memperdalam ilmu tenaga dalam yang sempat saya tinggalkan, selain latihan pernapasan saya juga mulai memperdalam ilmu aji-ajian versi jawa yaitu dengan melakukan puasa mutih, ngebleng dan membaca suatu rapalan ribuan kali.

Bahkan saya sempat diajak seorang sahabat non muslim sesama praktisi Reiki yang beraliran kejawen melakukan kungkum (berendam diair dengan membaca rapalan tertentu) di Sendang Kasihan Yogyakarta. Semakin lama saya memperdalam ilmu Reiki juga tenaga dalam serta ajian-ajian ini saya mulai marasakan ketidakberesan dalam diri saya, saya menjadi malas untuk beribadah syari’ah yang dituntunkan Rasulullah, merasa tidak nyaman membaca Al-Qur’an malah lebih suka bermeditasi (seolah-olah menggantikan shalat) yang saya anggap lebih bisa menenangkan saya dan mengasyikkan karena saya merasakan sensasi-sensasi tertentu yang hebat seperti merasa bisa terbang juga merasa ada kekuatan-kekuatan tertentu yang masuk dalam tubuh saya. Sampai tahun 2003 saya terus memperdalam ilmu-ilmu saya itu, saya juga mampu untuk scaneling berbagai energi Reiki yang saya inginkan tanpa bantuan Master Reiki lagi. Dalam pendalaman ilmu-ilmu ghaib ini saya pada tanggal 10 februari 2003 tiga hari sebelum Hari Raya Idul Adha saya pergi ketempat Pak Gatot Margono seorang guru besar Perguruan tenaga dalam Chakra Buana di Magetan Yogyakarta untuk memperdalam ilmu Kanuragan. Sesampai di Magetan saya menemui Pak Gatot Margono. Disana saya diberi penjelasan mengenai Ilmu meraga sukma, Trawangan, penyempurnaan Ajian Rajah Kala Chakra yang telah saya miliki sebelumnya, ilmu panglimunan, kekebalan, silat ghaib, sampai pada saya bisa tahu isi hati orang juga bisa mengetahui suatu barang dalam keadaan mata tertutup hal itu dilakukan Pak Gatot katanya dengan “membuka” tubuh saya. Pak Gatot merajah seluruh tubuh saya dengan huruf-huruf arab dengan menulis dari jari-jari tangannya langsung (seperti membuat simbol Reiki) , ia juga mengatakan akan memberikan tempat ditubuh saya untuk sebangsa malaikat, juga memberi saya kemampuan menghimpun tenaga dalam tingkat tinggi dalam tingkat karomah dengan metode bacaan tertentu pada posisi Namaskar (tangan ditelungkupkan didepan dada).Walhasil setelah saya coba saat itu juga saya merasakan ada yang aneh ditubuh saya saya kedua tangan saya yang saya telungkupkan di dada bergetar dengan hebat tanda energi itu sudah masuk.

Namun dalam penjelasannya setelah prosesi pembukaan itu ada perkataannya yang aneh dari beliau, walaupun Pak Gatot katanya beragama Islam ia mengatakan kita sebenarnya tidak perlu shalat, puasa juga melaksanakan syari’at Islam karena hal itu sudah tidak penting lagi jika sudah sampai pada tingkat makrifat (seperti aliran Sufi,kejawen atau ajaran Syekh Siti Jenar) lalu ia juga menjelaskan tentang ajaran versi kejawen seperti tentang saudara kembar, Roh pembimbing, kesadaran jiwa, sukma sejati. Ia juga mengatakan bahwa ia mampu menemui Sunan Kalijaga yang dikatakan Pak Gatot sebagai Guru Spiritualnya dan ia sangat senang memberikan ilmunya pada saya yang dikatakannya saya telah siap menerima ilmu tingkat tinggi.

Saya waktu itu merasa menjadi orang yang hebat sekali. Saya hanya sehari semalam saja di tempat Pak Gatot, setelah menginap semalam ditempatnya lalu esoknya saya pulang. Sebelum saya pulang ke Yogyakarta saya sempatkan dulu menginap kurang lebih tiga hari ditempat saudara saya di Solo. Kebetulan di Solo tempat Om saya itu ada kamar dilantai dua yang cukup sepi maka saya bermeditasi disana. Tidak lama meditasi saya meresakan tangan saya bergetar lalu tangan saya bergerak sendiri (gerak pribadi) membentuk gerakan-gerakan tertentu seperti gerakan Yoga, juga dapat bergerak sendiri membentuk jurus-jurus tenaga dalam, jika ingin gerak silat tubuh saya bergerak sendiri. Hari kedua saya bermeditasi kembali, namun kali ini ada kejadian yang luar biasa sewaktu saya sedang “menghimpun” kekuatan dalam posisi Namaskar tiba-tiba terbersit dengan kuat sekali dihati saya untuk menulis, lalu saya sediakan pena dan kertas lalu tangan saya tanpa dikomando bergerak sendiri dengan mengenalkan dirinya sebagai sukma sejati, lalu banyak lagi yang mengenalkan dirinya salah satunya sebagai kesadaran jiwa, kesadaran hati, roh pembimbing, caranya cukup aneh yaitu menulis. Katanya ini cara pertama untuk berkenalan dengan saya sebagai satu tubuh, ia mengatakan ditubuh saya banyak sekali “kesadaran-kesadaran”.

Mereka mengatakan sudah sangat letih mendampingi saya hidup didunia, mendengar hal itu dan dengan keinginan “teman” saya itu, sesuai dengan ilmu-ilmu Reiki yang saya pelajari saya membuat suatu simbol Reiki di dada juga dibagian tubuh lain lalu dipersilahkan mereka untuk mengambilnya kekuatannya. Pertemanan saya berjalan terus sampai saya pulang kekos-kosan, waktu itu kami hanya bicara melalui tulisan saja. Di kos-kosan saya sempat mempertontonkan kemampuan saya menebak warna-warna pada kertas yang diinginkan teman saya itu dengan mata tertutup.

Setelah dua hari istirahat setelah kepulangan dari Magetan dan Solo saya pergi ke warnet untuk melihat email-email kiriman teman-teman sesama praktisi Reiki. Sewaktu sedang mengetik tiba-tiba ada yang berbicara di dalam hati saya, hebat! Saya bisa mendengar dengan sangat jelas suara-suara ghaib seperti suara sukma sejati, kesadaran jiwa bahkan ada yang mengenalkan diri sebagai Dewa-Dewa langsung berbicara lewat hati. Saya waktu itu saat duduk di warnet seperti sedang trance, saya tidak mempedulikan keadaan saya sendiri namun saya tidak sampai membuat suatu tindakan-tindakan seperti orang kesurupan (seperti mengamuk) namun hanya tidak sadar secara bathin, dalam keadaan duduk saya melihat dengan mata bathin seolah-olah ada begitu banyak makhluk-makhluk yang mendatangi saya (dapat saya lihat wujudnya yang beraneka ragam) yang katanya ingin menolong saya menuju kesempurnaan hingga dada saya berdebar dengan kerasnya.

Saya juga merasakan ada yang aneh pada diri saya, saya seolah-olah mendapat kekuatan atau kesadaran yang mendalam tentang hakikat keghoiban, karena tidak tahan lagi berhadapan dengan makhluk-makhluk ghaib itu dan kesadaran saya yang semakin menipis itu saya lalu membaca Ayat Kursi berulangkali yang cukup membantu hingga saya tersadarkan lalu saya pulang ke kos-kosan. Namun fikiran, hati, masih belum sempurna milik saya. Di kamar saya kembali tidak sadar dan saya lupa membaca Ayat kursi hingga saya hanya mengurung diri dikamar bermeditasi “asyik” dengan perkenalan dengan berbagai macam makhluk itu dan mengalami sensasi-sensasi yang aneh yang sukar untuk saya ungkapkan. Saya waktu itu merasa menyelami kesadaran-kesadaran ghaib saya hingga saya seolah-olah menaklukkan satu persatu kesadaran saya dan terus menuju ketingkat kesadaran yang lebih halus pada setiap lapisan diri saya. Saya mengalami sensasi seolah-olah tahu tentang dunia ini juga hakikat keghoiban, saya juga seolah-olah menjadi orang asing di dunia ini hingga sampai tiga hari saya hanya mengurung diri dikamar, jika lapar saya hanya makan sedikit sekali.

Teman-teman yang merasa aneh dengan sikap saya itu mulai mengatakan saya keberatan ilmu (karena setelah pulang saya bisa mendemonstrasikan kemampuan ghoib saya) saya lalu mulai mengoceh tentang hakikat keghoiban tapi saya waktu itu dalam keadaan sadar namun dalam keadaan sudah dipengaruhi. Melihat keadaan saya yang aneh itu mereka memaksa saya untuk ketempat seorang Ustadz untuk diobati, saya lalu dengan percaya diri menyanggupi keinginan mereka. Sesampainya ditempat Ustadz Ja’far Umar Thalib (mantan Panglima Laskar Jihad) ternyata Ustadz tidak dapat ditemui lalu saya dibawa ketempat temannya yang bernama Mas Untung yang bisa mengobati orang seperti saya. Sesampainya disana saya ditanyai tentang keadaan saya dan sempat terjadi diskusi.Sesudah itu saya disuruh tidur dan saya di Ruqyah dengan Ayat-ayat Al-Qur’an,yang terjadi sungguh hebat tubuh saya bergetar dengan kerasnya seluruh persendian saya kaku dan seperti terkena arus listrik yang kuat. Saya menangis dengan kerasnya namun saya tidak tahu kok bisa menangis.

Saya mendengar banyak yang teriak kepanasan didalam tubuh saya. Saya akhirnya tidak bisa mengontrol diri saya lagi karena yang berbicara waktu itu bukan saya lagi namun makhluk-makhluk ghoib yang ada dalam tubuh saya. Saya tidak terlalu ingat apa yang dibicarakan makhluk itu pada orang yang menerapi saya karena saya dalam keadaan tidak sadar. Mungkin ada satu jam saya di Ruqyah lalu saya disadarkan. Mas Untung mengatakan didalam tubuh saya ada banyak sekali makhluk sebangsa Jin dan syaitan, tubuh saya sudah dikuasai sepenuhnya oleh makhluk halus sebangsa jin dan syaitan itu, secara lahir dapat dilihat raut muka saya tiba-tiba berubah menghitam tidak ada cahaya dalam prosesi Ruqyah. Saya lalu dinasehati Untung agar kembali pada ajaran agama Islam yang murni dan saya diberi amalan untuk dibaca.

Tetapi waktu itu saya seakan kurang percaya akan apa yang saya alami, lalu saya pulang kekos. Tidak lama dikamar dada saya terasa sesak lalu teman-teman saya mulai mencoba membacakan Ayat-ayat Al-Qur’an pada saya hingga akhirnya saya kembali kumat, lalu mereka kembali memanggil Mas Untung, lalu Mas Untung kembali meruqyah saya. Setelah kurang lebih satu jam Mas Untung kewalahan karena ada sangat banyak makhluk halus didalam tubuh saya lalu Mas Untung memanggil Mas Faturakhman yang juga membawa teman-temannya.Waktu itu terjadi “pertempuran” Mas Untung dan Mas Faturakhman melawan makhluk halus yang ada pada tubuh saya yang waktu itu berjumlah 40.000 makhluk sebangsa jin dan syaitan (wallaahu a’lam) dan katanya diluar tubuh saya ada ribuan jin dan syaitan lagi yang menunggu untuk masuk. Bahkan ada mengaku ia adalah Pak Gatot yang sedang meraga sukma masuk dalam tubuh saya untuk membantu menghadapi Mas Untung, Mas Faturakhman , ada juga Jin mengaku-aku dewa, makhluk halus itu mengatakan sangat marah pada Mas Untung dan Mas Faturakhman dikarenakan merekalah saya kembali dalam Islam dan para makhluk halus itu mengatakan sangat ingin “membantu” saya mencapai kesempurnaan dalam spiritualitas. Mereka sempat menunjukkan kemampuan mereka mengetahui isi hati Mas Untung dan Mas Faturakhman juga mengatakan hal-hal yang bersifat pribadi pada diri mereka bahkan hal-hal yang bersifat rahasia pada diri Ayah saya yang berada di Lampung juga rahasia keluarga saya makhluk halus itu mengetahuinya. Mereka juga mengetahui dengan tepat nama-nama jin yang pernah dimiliki Mas Faturakhman (dulu ia sempat mendalami ilmu ghaib tentang jin dan akhirnya bertobat).

Selama prosesi Ruqyah itu sedikit demi sedikit saya sudah mulai sadar penuh secara bathin namun tidak bisa mengontrol tubuh tapi bisa mendengarkan percakapan dan adu kekuatan jin dengan kekuatan bacaan Al-Qur’an. Mas Untung dan Mas Faturakhman selama dalam prosesi Ruqyah sempat beberapa kali menekan-nekan bagian tertentu dalam tubuh saya atau meremas rambut pada kepala saya untuk mengeluarkan dan membunuh makhuk astral yang ada pada diri saya itu dengan diiringi teriakan kesakitan dari jin dan setan yang menguasai tubuh saya (saya bisa merasakan kematian satu-persatu jin dan setan dalam tubuh saya,dimana saya merasakan nafas saya serasa putus dan tubuh saya serasa tertekan kebumi disaat jin dan setan itu berteriak pada teriakan terakhir hidupnya . Wallaahua’lam). Selama kurang lebih delapan jam mereka mengobati sedangkan para tetangga diluar sudah banyak mengumpul karena mendengar jin dan setan melalui lisan saya berteriak-teriak minta ampun dengan kerasnya dan mulai terlihat keburukan mereka yang ternyata mereka lalu mengolok-olok Mas Untung dan Mas Faturakhman yang dikatakan mereka tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk menghadapi mereka bangsa jin Ifrit, yang keadaannya sangat berbeda ketika mereka mempengaruhi saya mereka berbuat-seolah mereka sangat suci.

Makhluk halus itu juga sempat mengancam saya untuk mencabut nyawa saya jika saya tidak mengusir orang yang menerapi saya, saya juga dipaksa mengikuti mereka dan percaya pada ajaran mereka, mereka juga mengatakan melalui bathin saya bahwa mereka punya kemampuan dan kekuasaan untuk mencabut nyawa saya. Mungkin lebih dari lima kali mereka berbuat sesuatu pada diri saya sehingga saya merasa napas saya serasa putus dan dan mendapat sensasi seolah-olah lingkungan sekitar menjadi hening seketika, namun secara bathin saya katakan “Saya hanya menyerahkan diri saya kepada Allah SWT semata,Dialah yang punya hak atas nyawa saya dan saya minta ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan yang telah saya perbuat!”Yang nyatanya mereka hanya menggertak saja dan tidak terbukti sama sekali ancaman mereka itu.

Dalam prosesi Ruqyah itu akhirnya diketahui ternyata selama ini sebelum saya ketempat Pak Gatot pun sudah banyak makhluk halus yang ada dalam tubuh saya dalam berbagai jenis bentuk makhluk astral yang ikut masuk ketika saya di attunement berbagai aliran Reiki (ternyata sewaktu di attunement Reiki dan saat penyaluran Reiki justru banyak makhluk ghaib yang masuk) dan saat berlatih tenaga dalam juga saat melakukan laku Aji-ajian tertentu yang golongan Jinnya termasuk “jawara-jawara” yang kuat-kuat ilmu dan tipuannya hingga saya tertipu tidak menyadari keberadaan mereka sama sekali. Ternyata mereka memang punya misi utama untuk menjebak agar manusia tidak mentauhidkan Allah dengan tipudayanya dan tubuh saya telah dijadikan tempat bagi mereka sehingga mereka dapat seenaknya keluar masuk pada diri saya sesuka hati mereka.

Sedangkan saya tidak menyangka sama sekali,selama ini saya sangat yakin akan keampuhan energi perlindungan yang telah saya program juga pagaran tenaga dalam yang telah saya buat yang nyatanya tidak ada fungsi apa-apa.(Namun Alhamdulillah dalam prosesi Ruqyah itu ada satu “pentolan” Jin sadar bernama Ronggowarsito yang kemudian masuk Islam keluar dari tubuh saya dengan membawa ribuan anak buahnya setelah didakwahi dan diselingi debat oleh Mas Faturakhman). Setelah delapan jam meruqyah saya, Mas Untung dan Mas Faturakhman sudah kelelahan dan masih menyisakan Jin dan Setan dalam tubuh saya walaupun sudah banyak Jin yang telah tewas terbakar atau keluar dari tubuh saya. Makhluk halus terakhir itu mengatakan ia adalah Allah dan ada yang mengaku Syekh Siti Jenar (tampaknya tinggal dedengkotnya). Mas Untung mengatakan sekarang tinggal kamu sendiri yang mengalahkannya dengan Fadhilah Al-Qur’an yang diajarkan pada saya. Karena keadaan saya belum begitu baik saya lalu pulang ke Lampung tempat orang tua saya tinggal. Dalam perjalanan ke Lampung makhluk halus itu kembali mempengaruhi saya agar mengikuti bujuk rayu mereka dengan mengiming-imingi akan membantu saya meningkatkan spiritualitas,saya benar-benar bisa mendengar ucapan mereka lewat hati dan kembali mereka membuat sensasi-sensasi aneh pada diri saya namun tidak sekuat dulu dan saya memang sudah mewaspadainya lalu saya membaca Ayat-ayat Al-Qur’an dan saya mendengar dengan jelas sekali mereka langsung berteriak kepanasan.

Saya di Lampung di Ruqyah oleh Ustadz Ari Wibowo (sahabat Ustadz Fadlan) di Pondok Pesantren Darul Fattah dan Ustadz Darsono ditempat yang berbeda ternyata masih banyak jin dalam tubuh saya dan ada sihir yang terus menyerang saya. Saya juga sempat dibawa Ibu saya ke Guru besar tenaga dalam Sinar Cakra yang ibuku waktu itu menjadi anggota Sinar Cakra dan saya juga menjadi anggotanya. Yang terjadi adalah mereka tertawa-tawa yang bisa didengar lewat bathin saya karena tidak ada satu pun jurus-jurus tenaga dalam pada saat penyaluran energi tenaga dalam sanggup mengusir bahkan melukai mereka karena ilmu-ilmu tenaga dalam dan semacamnya itu sendiri adalah salah satu senjata dan tipu daya mereka untuk mengecoh manusia.

Saya juga ingat mereka pernah mengatakan sewaktu saya masih di Yogyakarta diwaktu jin dan setan itu masih tersisa dalam tubuh saya,mereka sama sekali tidak mempan sama sekali terhadap yang dinamakan Energi Ilahi atau Reiki (Untuk penjelasan tentang hakikat Reiki, tenaga dalam dan ilmu kesaktian bisa membaca buku saya yang berjudul “Membongkar Kesesatan Praktek Sihir Pada Reiki, Tenaga Dalam dan Ilmu Kesaktian”) walaupun sempat saya mengalirkan jenis energi yang bersifat panas sekelas Sakara juga Karuna KI ataupun energi sekaliber Shing Chi bahkan Reiki Tao dan juga bola energi kuning emas yang katanya anti Jin sama sekali tidak berarti malah mulai terlihat kejelekan mereka. Mereka sangat suka mengolok dan mengejek dengan mengatakan Energi Ilahi itu tidak punya pengaruh apa-apa bahkan sangat enak untuk “dimakan” dan Reiki itu adalah milik mereka lalu mereka mengatakan bahwa saya orang bodoh tidak tahu apa-apa. Mereka juga mengatakan mereka sudah berpengalaman selama ribuan tahun demi misinya untuk mempengaruhi orang-orang seperti saya lewat kekuatan-kekuatan energi atau tenaga dalam. Pada masa pengobatan ini saya sempat tiga kali antara sadar dan tidak didalam tidur saya, saya berkelahi dengan makhluk halus yang masih tersisa didalam tubuh saya dan saya bisa melihat wujudnya dengan sangat jelas seperti saya melihat dengan mata telanjang.

Pada pertemuan pertama saya melihat ada dua Jin laki-laki yang menyerang saya dan waktu itu saya sempat terpukul namun saya tidak merasakan sakit dan saya dapat membanting salah satu Jin itu sewaktu ia ingin menebas tubuh saya dengan pedangnya hingga terkena temannya sendiri. Beberapa hari kemudian saya kembali bermimpi dan saya kembali dapat melihat mereka dengan sangat jelas sekali namun dalam rupa yang sangat menyeramkan dan mentertawai saya dengan tawa yang cukup mengerikan namun tidak berani mendekati saya. Pada pertemuan ketiga inilah saya dapat melihat wujud mereka secara lebih nyata wallahualam yaitu ada Jin yang berbentuk sangat mirip dengan manusia namun tubuhnya begitu besar dan sangat tinggi dan setan satu lagi berwujud seperti kera dengan tubuh sangat hitam dan pendek kira-kira 50 cm saja. Saya kali ini benar-benar berkelahi dengan mereka saya benar-benar merasakan mereka menyerang saya.

Saya sempat menangkap Jin yang bertubuh pendek dengan tangan kiri saya lalu saya cengkram tubuhnya dengan keras dan saya bacakan Ayat Kursi hingga ia terbakar hingga Jin yang satu lagi yang bertubuh amat mirip manusia itu tidak berani mendekat. Setelah mendapat pengobatan Ruqyah di Lampung dengan Ustadz Ari Wibowo dan Ustadz Darsono dan dengan cukup ketat melakukan dzikir juga doa-doa untuk perlindungan diri, juga membeli mendengarkan kaset Ruqyah yang dibacakan Ustadz Fadlan saya merasa agak baikan. Jin yang ada dalam tubuh saya itu tidak begitu dapat lagi membuat sensasi-sensasi yang aneh pada bathin saya. Saya juga sempat menelpon Ustadz Fadlan pada minggu kesatu bulan maret 2003 dan ada kejadian yang cukup berkesan sewaktu saya menelpon Ustadz Fadlan, begitu Ustadz Fadlan mengangkat Hp-nya dan saya mengatakan bahwa saya ingin konsultasi tantang masalah Jin yang ada dalam tubuh saya, tiba-tiba saya langsung tidak dapat mengontrol diri saya lalu Jin yang masih ada dalam tubuh saya itu berteriak-teriak tidak sudi bertemu Ustadz Fadlan. Melihat Jin itu berbicara melalui lisan saya maka Ustadz Fadlan langsung meruqyah saya secara jarak jauh melalui telpon, saya bisa mendengar Jin yang ada dalam tubuh saya itu berteriak-teriak kepanasan (dalam Terapi Ruqyah melalui Hp itu Alhamdulillah saya bisa mengontrol tangan tubuh dan tangan saya untuk tetap duduk memegang telpon). Lalu saya disadarkan kembali dan Ustadz Fadlan menyarankan agar saya menemuinya di Jakarta atau di Yogyakarta. Saya lalu kembali ke Yogyakarta dan saya sekembalinya di Yogyakarta berniat untuk menemui Ustadz Fadlan secara langsung.

Pada hari jum’at minggu ketiga bulan April 2003 saya menemui Ustadz Fadlan dengan ditemani teman saya menuju tempat terapi Ruqyah Ustadz Fadlan untuk di Ruqyah.Begitu sampai ditempat Ustadz Fadlan ada juga kejadian yang cukup menghebohkan setelah saya turun dari motor dan mendengar suara Ustadz Fadlan yang sedang melakukan Terapi Ruqyah, dada saya langsung terasa sesak dan saya langsung jatuh terduduk ditanah,lalu saya muntah-muntah, saya merasa ada banyak sekali yang keluar melalui mulut saya semacam uap yang keluar bersama-sama muntahan saya. Saya lalu dibawa ke ruangan tempat Ruqyah massal berlangsung,di ruangan itu saya tidak dapat lagi mengontrol diri saya, Jin yang telah menguasai tubuh saya itu menangis meraung-raung kepanasan, tubuh saya juga bergetar dengan hebatnya. Setelah setengah jam Jin melalui tubuh saya itu menangis dan berteriak-teriak kepanasan lalu Ustadz Fadlan secara khusus membacakan ayat-ayat Ruqyah kepada saya Ustadz Fadlan pada saat meruqyah saya secara langsung sempat beberapa kali memukul-mukul juga menekan pada beberapa bagian tubuh saya, lalu terjadi dialog Jin yang mendakwakan dirinya sebagai golongan Jin Ifrit dengan Ust.Fadlan.

Jin itu mengaku mempunyai ribuan anak buah dan dan sebagian besar anak buahnya itu telah pergi dari tubuh saya dan juga Jin itu mengatakan bahwa gara-gara Ustadz Fadlan banyak sekali anak buahnya yang tewas terbakar, Jin itu juga mengaku bahwa Reiki itu sebenarnya dari kekuatan dirinya dan dalam berbagai jenis aliran Reiki yang telah dikuasai saya itu ada banyak jenis Jin yang masuk sesuai dengan jenis aliran Reiki yang telah dikuasai saya, juga ada banyak Jin lain yang telah membantu dan menguasai saya pada saat latihan tenaga dalam yang sesungguhnya tenaga dalam itu juga dari kekuatan mereka (percakapan antara Ustadz Fadlan dengan Jin dalam tubuh saya itu sempat direkam oleh asisten Ustadz Fadlan).


Lalu Ustadz Fadlan mengajak Jin yang ada dalam tubuh saya itu bertobat dan masuk Islam, tetapi Jin-Jin yang telah menguasai tubuh saya itu sepertinya enggan masuk Islam bahkan ada salah satu Jin yang takut pada Pak Gatot Margono mengatakan jika ia keluar maka Pak Gatot akan membunuhnya. Karena kebandelan mereka setelah didakwahi masih saja tidak mau keluar dari tubuh saya maka Ustadz Fadlan memukuli kembali mereka (dengan melalui perantara tubuh saya) hingga mereka menjerit-jerit kesakitan dan kepanasan karena tubuh mereka luka-luka dan terbakar. Akhirnya banyak diantara mereka yang menyerah kalah, lalu Ustadz Fadlan memberi saya minum air sirih yang telah disaring dan dicampur garam dan Ustadz Fadlan menyadarkan saya kembali. Selepas saya sadar Ustadz Fadlan lalu memberi saya amalan doa perlindungan gangguan Jin yang mesti saya amalkan dan Ustadz Fadlan menganjurkan saya untuk kembali datang karena masih ada sisa Jin yang masih ada dalam tubuh saya. Pada jum’at berikutnya saya kembali datang untuk kembali di Ruqyah namun kali ini Jin yang masih ada didalam tubuh saya itu sudah tidak lagi begitu bisa menguasai tubuh saya tetapi masih bisa membuat getaran-gataran pada tangan dan juga membuat mata saya terus mengeluarkan air mata, dalam prosesi Ruqyah itu beberapa bagian tubuh saya dipukul untuk mengeluarkan Jin yang masih tersisa. Alhamdulilllah setelah prosesi Ruqyah itu saya sudah merasa baikan dan saya mulai bisa melaksanakan ibadah dan aktifitas sehari-hari dengan baik.Lalu pada saya pada minggu-minggu berikutnya terus mengikuti prosesi Ruqyah dan terus bertahan selama kurang lebih enam bulan lamanya dengan dzikir dan do’a hingga saya benar-benar bisa terbebas dari pengaruh Jin yang ada pada diri saya. 
Wallahualam.